Minggu, 16 Januari 2011

Berpetualang di Pantai Ujung Genteng (29-31 Desember 2009)


Perjalanan kali ini terbilang cukup nekat, karena selain belum mengetahui lokasi, kami (aku, ventin dan ka agit) hanya menyusun rencana dan persiapan keberangkatan ini hanya dalam waktu ± 2 hari dengan budget yang sangat minim. Bermodal informasi dari teman yang sudah pernah kesana dan dari internet, akhirnya kami berangkat menuju pantai Ujung Genteng, sebuah pantai yang terletak di selatan kota Sukabumi. Mungkin banyak dari antara teman-teman yang merasa asing dengan pantai ini, bahkan ketika aku bilang sama temenku kalau mau pergi ke Ujung Genteng, dia malah bilang “mau bunuh diri loe sa?” what a question!

          Kebiasaanku kalau ingin bepergian adalah sulit tidur, tapi ini aku manfaatkan untuk packing. Aku hanya membawa day pack seperti biasa, isinya beberapa baju + pakaian dalam (untuk 3 hari 2 malam) *saranku bawa pakaian dalam lebih banyak dari perkiraan lama tinggal, pakaian untuk renang (kaos oblong dan celana boxer), peralatan mandi, handuk kecil, minuman kaleng dan snack, sandal jepit, dan kamera + charger. Temanku yang lainnya membawa mie instan (karena budget minim), dan pil kina, karena di Ujung Genteng masih banyak nyamuk malarianya. Buat info ni guys, minum pil kinanya dari 1 hari sebelum keberangkatan ya, biar larut dan diserap tubuh, jangan lupa bawa antimo bagi teman-teman yang mabuk darat, karena medan perjalanannya, mendaki gunung lewati lembah :D, tapi sungguh pemandangannya breath taking abis.
          Kami janjian untuk berkumpul di Stasiun Depok baru sekitar jam 05.00 WIB, tiket untuk menuju stasiun Bogor harganya Rp 1.500 (pada waktu itu), sekitar jam 07.00 WIB kami tiba di stasiun Bogor (karena keretanya sedikit terlambat), segera kami menuju Terminal bis Baranang Siang dengan menaiki angkot berwarna hijau dari depan stasiun Bogor, tarifnya Rp 2.000. Kami mencari informasi tentang bis menuju Surade kepada orang-orang di terminal, ternyata bisnya ngetem di pintu keluar terminal, bisnya MGI ekonomi dengan tarif Bogor-Surade Rp 35.000 (sangat terjangkau untuk jarak tempuh yang jauh). Bis mulai bergerak sekitar jam 07.15, Thx God perjalanan lancar terkendali :p, aku sangat menikmati perjalanan kali ini dengan ditemani lagu-lagu kesukaanku yang kuputar di Hp (jangan lupa bawa headset atau mp4 bagi yang punya yaa, it will help you to increase your mood guys J). Oia si ventin memberiku antimonya, aku minum setengah saja, karena aku juga jarang mabuk darat.
          Sekitar jam 11.00 kami tiba di terminal bis Lembur Situ, dan bisnya ngetem cukup lama, selain menunggu penumpang si pak supir menyempatkan diri untuk makan dulu. Ada kejadian lucu deh, waktu itu banyak pedangan asongan yang masuk ke dalam bis kami untuk menawarkan dagangan mereka, trus ada tukang salak, pertama dia bilang salak 10 buah Rp 5.000, karena kami terus menolak, mungkin dia sedikit frustasi akhirnya dia menawarkan salaknya semua (sampe yang didalam karung juga) dengan harga Rp 10.000 :p, maaf pak kami lagi nggak mood gadoin salak segitu banyak :p. Sekitar setengah jam kemudian bis berangkat kembali.
          Di tengah perjalanan kami berhenti, pak supir yang baik memberhentikan bis di rumah makan lokal (soalnya asli jauh banget perjalanannya), Beberapa di antara kami ada yang makan dan pergi ke kamar kecil. Kini tiba saatnya untuk mengeluarkan bekal kami, yaitu mie instan, kami hanya berniat untuk membeli air panas untuk menyeduh mie kami, dan ternyata si empunya rumah makan memberi kami air panas gratis, oalaah senangnya, kami menikmati makan siang kami yang sederhana itu di dalam bis ketika bis memulai perjalanan kembali, minumnya pun sharing ber-3, 1 botol air mineral seharga Rp 1.700an, indahnya :D.
Jalan menuju Curug Cikaso
         Sepanjang perjalanan aku sempat beberapa kali tertidur, karena pengaruh antimo yang memaksaku untuk menutup mata beberapa saat, namun aku segera mendengarkan musik-musik yang ngbeat agar nggak terus terlelap, hal ini aku lakukan karena nggak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat pemandangan yang begitu luar biasa! Pegunungan kapur, lembah yang dipenuhi perkebunan dan sawah, sungai, langit yang biru, tebing-tebing yang penuh dengan pohon-pohon besar, gerimis hujan yang sempat turun dan suara serangga (jangkrik dan tonggerek *serangga yang hanya keluar pada waktu siang-sore dengan suara sangat nyaring) membuai diriku (cieile).
          Kami tiba di Surade sekitar jam 15.30, kami menyempatkan diri untuk jajan di mini market (aku lupa ni apa aja yang aku beli, kayanya sih minuman dan vitamin C deh). Kami menaiki angkot berwarna merah (info penting nih guys, angkot ini hanya ada sampai jam 16.00, usahakan sebelum jam segitu kamu sudah sampai di Surade, supaya kamu nggak harus memakai jasa ojek yang lebih mahal), tarif sampai ke pertigaan ujung genteng Rp 8.000, widih mahal ya untuk tarif angkot, tapi perlu diketahui dari Surade sampai ke pertigaan ujung genteng memakan waktu 1 jam lho, dikiri kanan jalan terbentang perkebunan kelapa dan persawahan, gokill abis deh, jalannya sepi banget, hanya beberapa rumah penduduk yang kali lihat, kami tambahkan Rp 2.000 (jadinya Rp 10.000) karena kami minta di antarkan sampai ke Mama’s Losmen (tempat dimana kami akan menginap). Kami juga meminta no Hp pak supir agar esok hari dapat kami hubungi kembali (niat awal hanya untuk menjemput kami ketika kami ingin pulang, namun karena pertimbangan kami, akhirnya pak supir ini yang menemani kami berkeliling di daerah tersebut).
Kamar di  Mama's Losmen
          
 Setibanya di losmen, ka agit segera tawar-menawar harga, kami hanya menyewa 1 kamar yang kami sharingkan pada waktu itu harganya Rp 100.000/malam, dan ka agit minta eksta bed seharga Rp 25.000 untuk dia tidur (padahal ka agit yang kali ini menyumbang untuk sewa losmennya, tengkiu bradaa, hehehe). Kamarnya cukup enak, lantai terbuat dari kayu, dindingnya bilik, dilengkapi dengan kamar mandi di dalam ruangan dan 1 buah kipas angin serta 1 termos air panas. Losmen kami terletak tepat di depan pantai dan dekat dengan pertigaan ujung genteng (strategis).
Pantai Ujung Genteng di kala senja (sayang mendung)
          Setelah beristirahat alias meletakan barang-barang dan duduk sebentar, kami segera mengganti baju karena tidak tahan untuk bercebur ria di pantai. Pada waktu itu cuacanya kurang mendukung, karna maklum kami pergi pada waktu musim hujan, saranku kalau ingin berwisata pantai/bahari jangan pada waktu musim hujan ya, pergilah di sekitar bulan maret-agustus, walaupun sekarang cuaca tidak dapat diprediksi tapi kira-kira pada bulan itu lah curah hujannya kecil. Selain kita dapat menikmati laut yang biru (karena cahaya matahari yang cukup memantulkan bias langit ke air laut jadi warnanya biru sempurna), kita juga puas untuk main di pantai seharian plus melihat sun rise dan sun set. Kegiatan sore itu adalah main air di pantai, berfoto-foto ria di atas perahu nelayan yang sedang disandarkan, ngobrol dan melakukan jelajah singkat di pinggiran pantai. Ketika hujan turun kami tetap bermain dipantai lho (perlu diingat saat itu tidak ada petir dan curah hujannya sedang), asik banget! Tapi aku sempet BT karena ada binatang kecil (seperti kutu air) berwarna putih yang menggigit kakiku, oia karena di sekitar pantai banyak karang dan bulu babi (di sekitar pantai yang jauh dari sisi jalan) kita harus memakai sandal (saranku pakai sandal gunung/sandal bertali, jadi teman-teman nggak usah takut sendalnya hanyut kalau ombak datang).
Perbedaan warna air saat mendekati Curug Cikaso
          Kami tidak bisa melihat full sun set karena langit masih mendung, akhirnya kami memutuskan untuk mandi dan mencari makan. Kami sempat kebingungan mau makan dimana, karena restaurant di losmen nggak menyediakan makanan, karena biasanya mereka hanya menjadi pengolah makanan pengunjung, yang berupa seafood yang dibeli di tempat pelelangan ikan. Akhirnya kami berkeliling (info lagi nih guys, disana sepi banget lho, terpencil malah, jadi kalau bisa sediakan makanan siap saji yah, seperti mie, roti atau bubur instan jika teman-teman nggak mau repot atau nggak terbiasa makan di warung-warung makan sekelas warteg). Akhirnya menemukan warteg nelayan, tempat para nelayan dan penduduk sekitar makan. Malam itu aku makan nasi 2 + kikil + telor + es teh manis 2, semuanya Rp 12.000 (aku suka banget sama tehnya, mengingatkanku pada kampung nenekku di Ambarawa). Setelah makan kami kembali ke losmen untuk beristirahat, karena klo boleh jujur masih pegel banget nih badan, duduk ± 10 jam di bis dan tidak lupa kami menelepon bapak supir angkot untuk janjian besok pagi.
          Keesokan paginya kami segera mandi dan sarapan, kali ini kami sarapan nasi goreng di losmen seharga Rp 10.000/porsi. Tidak lama kemudian pak supir sudah menjemput kami untuk mengantarkan kami jalan-jalan. Tujuan pertama kami adalah curug Cikaso. Dari losmen kami perjalanan ± memakan waktu 1,5 jam. Kami harus membayar tiket masuk objek sebesar Rp 5.000/orang dan membayar tiket perahu Rp 60.000/perahu dengan kapasitas 10 orang. Di lokasi ini terdapat berbagai objek wisata tapi karna (kembali) budget kami minim, jadi kami memilih curug Cikaso alias yang paling murah. Diatas perahu kami melihat pemandangan yang sangat menakjubkan, saat itu air di sungai berwarna coklat keruh namun ketika mendekati tempat tujuan air tersebut berwarna hijau daun. Perkiraanku sih karena ada lumut atau alga yang tumbuh didalam sungai yang membuat airnya berwarna seperti itu
Curug Cikaso :D

Sesampainya di objek kami semua langsung kegirangan, karena belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Terdapat 3 buah air terjun dengan kolam dibawahnya yang dapat digunakan untuk berenang atau sekedar main air. Oh ya aku sarankan kalau kalian ingin berenang diharap ganti baju di toilet dekat loket, karena di dalam objek tidak tersedia tempat ganti/toilet (pada saat itu aku sama ventin ganti baju dibalik batu-batu kali yang besar). Kalau ingin sewa pelampung (ban dalam mobil) harganya waktu itu Rp 6.000-sepuasnya :p. Cukup lama kami disini dan ketika tangan sudah keriput semua kami memutuskan untuk pergi.

Rencana awal setelah dari Cikaso kami ingin pergi ke gua (aku lupa namanya) tapi karena persyaratannya cukup rumit, kami memilih untuk kembali ke Genteng saja. Kami menyempatkan untuk membeli menu makan siang kami, yaitu KFC gerobak dengan harga Rp 3.000/potong (ngirit mode on). Setelah makan kami iseng-iseng main di pantai dan tercetus ide untuk melihat pelepasan anak penyu (tukik) di pantai Pangumbahan tapi dengan berjalan kaki menyusuri pantai (-_-). Perjalanan yang luar biasa, tapi harus hati-hati nih karena banyak ranjaunya, alisa bulu babi dan kotoran sapi.
Bersama Tukik :B

Kami tiba tepat pada waktunya, dengan mengumpulkan sisa tenaga aku berlari untuk ikut berpartisipasi melepas anak penyu. Baunya amis sekali tapi lucu banget! si ventin sempat menjatuhkan anak penyu dengan tidak sengaja :p (jangan ditiru yaa). Penyu yang bertelur disini adalah jenis penyu hijau yang sudah terancam punah, dan kami dapat info dari petugas disana kalau penyu itu adalah salah satu binatang yang setia dengan pasangannya. Mereka hanya memiliki satu pasangan dan ketika pasangannya mati tidak lama kemudian mereka juga akan mati (T_T).

Sangking keasikan main dengan tukik kami tidak menyadari kalau hari sudah malam dan tiba-tiba teringat dengan perjalanan yang harus kami tempuh. Akhirnya aku menitipkan kamera aku pada ka agit karena takut dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Sepanjang jalan aku tidak menemukan penerangan sama sekali. Bisa kebayangkan kami melewati jalan setapak dari pasir di sebelah kanan lautan dan disebelah kiri hutan tebu, nggak bawa apa-apa selain kaleng minuman yang sudah kosong, lebih mirip uji nyali ini mah. Di tengah perjalanan ventin mengeluh karena pahanya lecet akibat gesekan pasir yang nempel, akhirnya kami memutuskan untuk mencari pangkalan ojek (yang sebenarnya perjalanan tinggal 1/3 lagi). Ternyata sedang terjadi pemadaman listrik di daerah Genteng, alhasil semua gelap gulita hanya terlihat beberapa cahaya dari lampu minyak dan yang terdengar hanya suara deburan ombak. Kami memutuskan untuk mandi dan segera tidur.
Angkot Surade-Genteng

Keesokan paginya kami segera packing dan menunggu abang angkot untuk menjemput kami lagi. Kami tiba di Surade kami membeli gorengan untuk sarapan dan langsung naik MGI Ekonomi jurusan Surade-Bogor. Aku sangat menyesal memilih bangku dibelakang sopir pada waktu itu, karena begitu banyak penumpang yang naik dan aku terjepit nggak bisa gerak dan you know what guys, perjalanan ini kan bukan 1, 2, 3 jam saja (pengen nangis banget) karena tulang pinggangku sakit dan bapak-bapak disampingku memakai parfum yang berlebihan :p. Aku sempat merasa bingung ketika bang kondektur hanya meminta tarif Rp 25.000 dan ternyata dugaanku benar, kita diturunin di terminal Sukabumi, tp Thx God ada MGI Bisnis jurusan Sukabumi-Depok dengan tarif Rp 20.000. Begitu sampai di Depok aku segera pulang dan pergi ke gereja untuk acara tutup tahun. Walaupun cape tapi tetap bersemangat :D


Biaya :
Kereta                            : Rp   1.500
Angkot hijau                   : Rp   2.000
MGI (total)                      : Rp 80.000
Angkot merah (total)        : Rp 20.000
Patungan angkot             : Rp 50.000
Tiket objek                     : Rp   5.000
Patungan perahu             : Rp 30.000
Makan (total)                   : Rp 50.000
Ojek                                : Rp  15.000
Total                               : Rp 253.500 

See you on my next journey
*next posting “Anugerah mengikuti Sail Banda 2010 (edisi I : Makassar)”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar