Kamis, 14 Oktober 2010

Liburan singkat di Paris van Java





Sabtu, 11 September 2010
Heii, selamat lebaran bagi teman-teman yang merayakan yaa, mohon maaf lahir dan bathin
Pada kesempatan liburan kali ini aku bersama ke-3 temanku (Sasa, Arya dan ka Agit) “bermain” ke ibukota Jawa Barat, yeah Bandung.
Perjalanan dimulai tepat jam 05.00 pagi, kami semua berkumpul di depan Jln. Dahlia (seberang BNI Margonda Depok). Sebelumnya aku sudah mengisi tangki perutku dengan 2 pasang roti dan segelas susu. Aku hanya membawa day pack kecil yang berisi : perlengkapan mandi, kaos, jacket, celana pendek, handuk kecil, pakaian dalam, kamera beserta chargerheadlamp dan dompet. Tidak lupa aku pakaikan “rain coat” pada tas mungilku itu, karena aku menyadari musim penghujan telah datang (tapi tidak mengurangi semangat berjalan-jalan ria lho). Aku juga menyarankan, bila musim penghujan datang sebaiknya tidak mengunjungi daerah pantai, karena air lautnya tidak akan sejernih bila kita datang pada waktu musim panas. Pantulan cahaya matahari juga turut mempengaruhi bias warna air laut lho, dan lagi acara “bermain” di pantai pun tidak maksimal jika turun hujan :p.
Kembali ke acara (red : baca dengan intonasinya mas tukul) seperti sudah diduga, kami ber-4 menggunakan motor untuk menuju tempat liburan kami kali ini. Setelah mengawali perjalanan kami dengan berdoa, kami pun langsung meluncur. Kami memilih jalur alternative, yaitu Depok-Sentul-Puncak-Cianjur-Bandung. Udara dingin yang menusuk sampai ke tulang tidak kami hiraukan, guna mempersingkat waktu tempuh, maklum liburan kali ini cukup singkat, 2 hari 1 malam, oleh karena itu kami harus extra dalam hal mengatur dan memanfaatkan waktu. Diperjalanan kami disambut dengan cahaya matahari, yang kala itu baru saja terbit (wuis jarang-jarang aku bisa lihat pemandangan kaya gini, wong bangunnya siang terus :p), namun ada suatu hal  yang menggelitik hatiku. Suasana disepanjang jalan sangat sepi, hanya beberapa orang yang aku lihat sudah beraktifitas, sampai-sampai aku bilang sama Arya (yang saat itu dengan baik hati membonceng aku) “Ya, kita kaya lagi maen film Zombie Land deh, hati-hati yee, ntr’ tiba-tiba tu zombie pada keluar” dan seketika ada seorang bapak sedang membakar kambing di luar rumah makan kepunyaannya, “bah, it seems like a grilled human body”.
Ketika memasuki jalur di tengah perkebunan teh, tangan dan kaki ini serasa beku, karena udara yang dingin menyelimuti kami. Sekitar jam 07.00 pagi kami telah tiba di Cibodas, dan berhenti untuk sarapan, tapi berhubung aku sudah sarapan sebelumnya hanya teman-temanku sajalah yang makan. Mereka membeli bubur ayam di pinggir jalan dengan harga Rp 6.000/porsi. Setelah selesai makan kami melanjutkan perjalanan menuju Bandung.
Oalaaa, pinggulku (tepatnya bokongku) sakit sekali, setelah berjam-jam duduk di motor. Rasanya sampai mau nangis, ketika sudah tidak kuat aku memberitahu Arya untuk segera berhenti kalau menemukan mini market, sekalian membeli minuman. Fiuhh, akhirnya berhenti juga, aku segera berdiri dan ternyata Sasa juga merasakan hal yang sama. Aku dan Sasa segera bergegas masuk ke dalam mini market yang berada di kawasan Bandung Selatan untuk “jajan”, aku membeli 1 kotak susu strawberry dan 1 buah es krim SpongeBob rasa pisang (totalnya Rp 7.500). Sebelum melanjutkan perjalanan aku mencoba mengelap wajahku dengan tissue basah yang aku bawa, dan WOW! Eksotik sekali wajah ini, sampai-sampai seluruh tissue berubah warna menjadi hitam (lebai mode on). Saat itu jam menunjukan pukul 10.00 dan kami melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Bandung.
Sepeda motor dipacu dengan kencang oleh Arya si pembalap, hahaha, jantung ini serasa bergerak kesana-kemari dari posisi sebenarnya, apalagi ketika ada tikungan tajam, ampun Dj! Namun pemandangannya sungguh luar biasa, bukit kapur yang menjulang ditambah sawah yang bertingkat-tingkat, what an amazing Sunda Land.
Finally Welcome Bandung! Kami muter-muter untuk menuju pusat kota. Wah sudah banyak yang berubah dari terakir aku kesini (sekitar ±3 tahun yang lalu :p). Kami memutuskan untuk ke Ciwalk atau Cihampelas Walk. Yaa sekedar window shopping dan numpang foto-foto deh, hehehe. Aku membeli gantungan handphone yang terbuat dari kayu ringan (nggak tahu namanya sih :p) di Purzento seharga Rp 5.000. Padahal dulu aku juga pernah membeli barang serupa dari Purzento di Citos (Cilandak Town Square), tapi karena aku pengen numpang foto di stall-nya jadi beli deh. 

Ketika perut ini sudah berontak dan jam tepat menunjukan pukul 12.00, kami segera mencari tempat makan yang unik dan MurMer (Murah Meriah), tapi apa daya masih banyak rumah makan yang tutup dikarenakan masih dalam masa lebaran (lebaran hari ke-2), akhirnya kami memutuskan untuk makan di WarTeg di daerah belakang School of Telematics. Menuku pada siang itu adalah : nasi, ayam goreng tepung ala Kfc (sungguh ayamnya enak banget), telur ceplok, bakwan (bala-bala) dan 1 gelas es teh manis (totalnya Rp 15.000). 

Selesai makan kami bergegas pergi menuju Jalan Asia Afrika, salah satu jalan bersejarah di kota Kembang itu. Di tengah perjalanan aku melihat bangunan Bank Indonesia cabang Bandung, dan teringat akan lomba foto heritage yang diadakan oleh Bank Indonesia. Langsung saja aku mengajak Arya untuk berhenti dan hunting foto sebentar, sinar matahari yang menyengat tidak ku hiraukan, demi mendapatkan gambar gedung era kolonial yang megah itu. Selain Bank Indonesia, aku juga mendapat bonus yaitu dapat mengambil gambar dari Gereja Katedral St. Petrus tepat di samping dari gedung BI, bangunan-bangunan itu terletak di jalan merdeka.

Kami pun tiba di jalan Asia Afrika itu, well kebanyakan jalan di Bandung itu oneway (satu jalur) jadi harus hati-hati kalau tidak ingin memutar arah lagi. Tiba saatnya untuk berfoto-foto ria di depan museum itu, terlihat beberapa orang pemuda-pemudi juga sedang asik bernarsis ria. Setelah beristirahat sambil melihat hasil jepretan aku dan arya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Jalan Braga, yang merupakan business district Bandung sejak Tempo Doloe J. Kami sempat bertanya kepada sekelompok pria untuk menunjukan arah menuju jalan Braga, namun diluar perkiraan kami, salah seorang bapak malah mengantarkan kami (menaiki motornya dan menunjukan kami jalan pintas menuju Braga) wuih, baik sekali kau pak \(^_^)/! Ketika sampai disana, suasananya mirip sekali dengan foto Braga Tempo Doloe yang pernah aku lihat di internet, hanya ada beberapa penambahan bangunan modern seperti Braga City Walk, dan beberapa minimarket tempat nongkrong anak-anak muda di Bandung. Sebagian besar toko yang ada adalah toko kerajinan, kebanyakan dari mereka menjual lukisan. Keadaan seperti ini juga dapat ditemui di Jakarta kota tua, tepatnya di sepanjang jalan Gajah Mada, namun suasana dan bangunan-bangunan yang ada di Braga ini lebih terawat dan teratur dengan baik.
Karena mata kami sudah tidak dapat berkompromi lagi (maklum, kami harus bangun subuh-subuh dan menempuh perjalanan yang begitu jauh) kami memutuskan untuk menuju kontrakannya Lambok (pacarnya si Sasa :p)  di daerah Sukaluyu untuk beristirahat. Sebelumnya aku sempatkan untuk update status facebook dan upload beberapa foto lho >_<. Aku tidur dari sekitar jam 16.00 dan bangun sekitar jam 17.30, dilanjutkan dengan mandi koboi (hanya cuci muka, lalu memakai minyak kayu putih, bedak dan deodoran serta ganti baju) sudah membuatku mantap untuk menjelajah Bandung di malam minggu itu :p. Hujan pun turun, ketika sudah sedikit reda kami bergegas pergi, tidak lupa kami memakai rain coat yang sudah kami persiapkan. Di tengah perjalanan Arya memberitahuku kalau dia lupa membawa dompet yang didalamnya terdapat STNK dan SIM, OMG! Jangan ditiru yaa, dengan harap-harap cemas kami melanjutkan perjalanan untuk berwisata kuliner. Oia, ada kejadian yang lucu dan ‘ngeselin terjadi padaku. Saat itu disalah satu sudut jalan tampak macet, Arya mencari-cari sela untuk menerobos kemacetan itu, ada seorang satpam sedang mengarahkan mobil untuk keluar dari pelataran sebuah hotel/kantor, dan tiba-tiba tangannya yang sedang memberi aba-aba pada supir mobil menghantam leherku ketika aku dan arya melintas! BUKK! Jangan tanya rasanya, sakit ajja!

Tujuan pertama wisata kuliner malam itu adalah surabi, kue kecil khas Bandung yang dibuat dengan cara memanggang adonan di dalam cetakan yang terbuat dari tanah liat. Kami memutuskan untuk makan di Surabi Imut Jalan Setia Budi no 194. Kami memesan menu yang berbeda-beda, agar bisa saling cicip-mencicipi. Aku memilih Surabi sosis dan minumnya Mocacino hangat, tadinya aku memesan Banana Shake tapi habis :’( (totalnya Rp 12.500). Setelah menunggu cukup lama, datanglah pesanan yang dinanti, tanpa pikir panjang, langsung aku lahap surabi itu, hmmm, aku suka mayonnaisenya :p. Sebenarnya aku tidak merasa kenyang memakan 1 porsi, tapi berhubung sehabis ini kami masih mau “jajan” lgi, ya sudah 1 saja itung-itung sebagai makanan pembuka, hehee. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan untuk berkeliling kota Bandung, walaupun hujan, semangat dan keceriaan kami tidak berkurang sedikitpun.
Sebenarnya kami ingin mencoba menu yang ditawarkan Sasa, yaitu nasi telor, namun berhubung warung tenda itu masih tutup, kami mencari alternative lain. Jujur pada malam itu Bandung sangat jauh berbeda dengan biasanya, seepiiiii sekali, hanya beberapa toko yang buka, tapi yang namanya factory outlet tetep eksis lah yaaw. Hampir semua tempat makan yang ingin kami datangi tutup, fiuuh, Arya sedikit frustasi karena sudah kelaparan, akhirnya kami memutuskan untuk makan di Nasi Bancakan, rumah makan dengan konsep yang hommy banget, makanannya juga masakan rumah, menuku adalah nasi (yang dibungkus daun pisang), ayam goreng, sayur toge dan teh botol (total harga Rp 15.000).
Selesai makan aku request untuk mampir ke BaBe (Barang Bekas), setiap aku ke Bandung aku pasti ke sini, tadinya aku pengen banget ke Gede Bage (pasar barang bekas di Bandung) namun aku masih ragu, karena Arya dan ka Agit ingin pulang pagi-pagi :’(. Ketika aku coba browsing-browsing, buset!! Harganya beda banget sama yang dulu, terakhir aku ke babe, aku masih bisa beli tas dengan harga Rp 10.000 dan baju kaos dan vest  seharga Rp 5.000, sekarang jangan harap! Dengan rasa sedikit kesal di hati, aku dan Sasa naik ke lantai 2 untuk melihat koleksi sepatu, yaa lumayan lha, adanya peningkatan, tapi harganya bikin BT. Aku keluar dengan tangan hampa, tadinya aku berpikir untuk rela membeli tripod jika harganya Rp 50.000an, hehehehe, ada sih 1 tapi harganya hampir Rp 300.000, yaa kali mending aku ke Harco Mangga Dua aja beli yang baru (perhitungan mode on).

Petualangan kami lanjutkan menuju jembatan Surapati untuk mengambil gambar. Kalau aku bilang dari atas jembatan (fly over tepatnya) kita dapat melihat perbedaan kota Bandung, dari pemukiman “biasa” sampai ke gemerlapnya suasana modern Bandung. Kadang-kadang aku juga suka mikir, kalau di malam hari kemana perginya orang-orang tua yaa, soalnya yang kebanyak aku lihat di Bandung (khususnya malam hari) anak muda semua sih, hohoho.

Karena kami bingung mau kemana lagi, akhirnya diputuskan untuk balik ke kontrakan Lambok untuk beristirahat alias tidur :p. pas nyampe aku juga nggak langsung tidur, biasa maen pesbuk dulu sambil ngobrol-ngobrol, namun karena teman-teman yang lain sudah tidak terdengar suaranya dan takut besok kelelahan, akhirnya aku memutuskan untuk tidur juga, well tidur dengan formasi ikan pindang, alias berjejer dan tumpuk-tumpukan.

Aku terbangun ketika mendengan Hpku berbunyi dan suara si Sasa dan ka Agit yang sedang mengobrol, ketika melihat jam sudah jam 08.00. kebetulan keluarganya si Sasa juga sudah mau nyampe di kontrakannya Lambok, karena mereka ada acara silahturahmi keluarga di Bandung. Dan kembali aku nggak mandi :p, hanya bersih-bersih dan ganti baju. Setelah berpamitan setibanya keluarga Sasa, kami (aku, Arya dan ka Agit) segera check-out untuk kembali ke Depok dan tidak lupa kami berdoa untuk keselamatan kami dan berterima kasih kepada Tuhan atas perjalanan kami di Bandung ini. Wah benar kata Sasa, ternyata terjadi pasar tumpah di dekat kontrakan Lambok yang membuat jalan sedikit macet, sungguh! Rasanya pengen turun aja ketika melihat gantungan harga di atas celana jeans Rp 10.000!!! tapi aku tahan aja :’(. Kami segera menuju gedung sate untuk mengambil gambar, dan ternyata tidak ada bedanya bahkan pasar tumpah disini lebih besar dan ramai dibanding yang dipinggir jalan tadi, niat mau mengambil gambar jadi tidak maksimal. Akhirnya aku memutuskan untuk “jajan” juga disitu, hiihih, lumayan aku dapat tas bahan seharga Rp 15.000, 2 sepatu yang lucu seharga Rp 62.000, gelang tangan kuning seharga Rp 2.000 :D. Ka Agit dan Arya membeli lontong ayam (sejenis lontong sayur) untuk sarapan, aku tidak terbiasa untuk sarapan dengan yang “berat” jadi aku nggak ikutan makan.
Segera kami memacu motor kami (tepatnya motor Arya dan ka Agit) untuk meninggalkan Bandung. Kepadatan pengguna jalan mulai terlihat, hal ini disebabkan liburan lebaran akan berakir pada hari Senin, 13 September 2010. Perjalanan non-stop kami tempuh, hingga akhirnya, seperti biasa, rasa sakit dibagian belakang memaksaku untuk minta berhenti ketika kami sampai di daerah Cianjur, tepat di depan rumah makan lembur kuring 2, pemandangan sawah-sawahnya ajiiibb :D. Sepanjang perjalanan aku sambil mengambil gambar memakai handycamnya si Arya, yaa iseng-iseng membuat film documenter :p, dan perlu diketahui ketika kami memasuki daerah Cipanas, terjadi tumpukan kendaraan, alias macet yang gila-gilaan, untung aja kita naik motor, kalau naik mobil nggak tahu deh mau nyampe jam berapa, banyak pengemudi kendaraan yang turun dan ngobrol dengan pengemudi lainnya sambil “jajan” di warung-warung pinggir jalan, ini adalah macet terparah yang pernah aku lihat sepanjang aku jalan-jalan di Puncak.
Aku menyempatkan untuk membeli oleh-oleh titipan si emak, yaitu sale pisang. Aku memilih untuk membeli di kawasan objek wisata Cibodas, sekalian mengobati rasa kangen pada tempat magangku tersayang. Wuaaahhh! Lautan manusia ini mah namanya, rame  banget! Tapi demi sale pisang yang enak di tempat langgananku, nggak apa-apa deh :p, aku membeli sale pisang ambon seharga Rp 5.000, sale pisang keju seharga Rp 5.000 dan kripik bayam juga seharga Rp 5.000. Kami tiba didepok sekitar jam 18.00, perjalanan kali ini dimulai ketika mata hari terbit dan diakhiri ketika mata hari terbenam (keesokan harinya) what a journey :D
Biaya :
-      patungan bensin       = Rp 25.000
-      makan (3x)               = Rp 42.500
-      “jajan”                      = Rp 91.500
-      Oleh-oleh                  = Rp 15.000
Total           = Rp 174.00







See you on my next journey
*next posting “Bertualang di Pantai Ujung Genteng”

2 komentar:

  1. wah wah gue jadi ngiler sm makanannya lis :D pengen ke Bandung! Ntar klo gw blk kta explore yg jauh2 lis kek di Bandung atau Jogja ^^

    BalasHapus