Kamis, 27 Januari 2011

“Anugerah mengikuti Sail Banda 2010 (edisi III: Kota Ambon Manise)”


Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja-puja bangsa. Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung dihari tua, sampai akhir menutup mata.

-Sebuah lagu ciptaan Bpk. (Alm)  Ismail Marzuki yang sangat tepat untuk menggambarkan keindahan Negeri ini- 

Korban mandi khatulistiwa 

Setelah berpetualang di Pulau Banda Neira dan Pulau Gunung Api, rombongan melanjutkan perjalanan menuju kota Ambon, pusat acara Sail Banda 2010 berlangsung. Namun di tengah malam buta kami mendapatkan “kado” spesial dari bapak-bapak TNI AL, yaitu “mandi khatulistiwa”. Kami semua kami dibangunkan dengan cara yang unik, dengan mematikan seluruh lampu yang ada di dalam kapal dan (ceritanya) kita mendapat kunjungan dari Dewa Neptunus (wakakak). Para TNI AL berpakaian layaknya gerandong, pocong, dll dan memaksa kami untuk turun ke tank deck (geladak paling bawah dekat ruang mesin). Kami semua dibariskan dan dibentak-bentak. Beberapa orang pingsan dan menangis (terutama yang perempuan) karena takut oleh wujud bapak-bapak tersebut. Singkat cerita kami semua dipaksa untuk meminum jamu yang isinya campuran rempah-rempah (tapi ada yang bilang dicampur minyak goreng *#$%!), rasanya seperti bumbu mie instan yang ada rasa manisnya juga, hooeekkk!! Tapi aku pakai trik agar ramuan itu nggak terminum. Setelahnya kami dipoles dengan cairan hitam yang lengket yaitu minyak goreng bekas (bekas goreng ikan) dan campuran oli. Harum sekali, amis-amis gimana gitu dan di kulit terlebih kulit muka rasanya panas sekali. Selanjutnya kami dimandikan dengan semprotan air laut dari selang yang besar sekali (perih banget di mata). Akhirnya untuk balas dendam kami buat cetakan-cetakan tangan, bibir dan kaki di dinding kapal, hehehe. Setelah mandi (aku sampai 3-4 kali bilas baru bersih) kami kembali beristirahat.
Muka gosong + berminyak = pas mantab
        Keesokan harinya kami mempersiapkan diri untuk mengikuti sambutan dari pejabat kota Ambon di pelabuhan Halong. Intermezzo dulu nih temen-temen, aku adalah seorang berdarah Ambon campuran dengan Jawa. Namun dari seluruh keluarga (kandung) papaku selain opa, belum pernah menginjakan kakinya di Ambon. Jadi nggak kebayang gimana perasaanku ketika menuruni anak tangga kapal di tanah Ambon. Sangat mengharukan! (telenovela mode on). Aku agak kaget dengan cuaca di Ambon yang *brrr panas sekali, aku  mengeluarkan kaca mata hitam dan memakai topi, tapi tetep aja wajahku belang :p, ya itung-itung tanning deh. Acaranya cukup lama, hingga waktu yang kunanti-nantikan dimulai, yaitu waktu pesiar. Sahabat kami yang merupakan warga Ambon yang sedang kuliah di Surabaya menjadi local guide pada saat itu. Karena kita semua “buta” tentang kota yang satu ini. Acara di Ambon yang kita lalui kurang lebih selama 4 hari (jadi cukup puas berpetualang disini). Nah untuk mempersingkat dan mengefisienkan cerita, aku membagi perjalananku berdasarkan tempat-tempat yang aku tuju saja. Let’s get it on…

Lapangan Merdeka
Pameran di Lapangan Merdeka
Saat baru tiba, aku dan rekan-rekan segera menyerbu stand-stand yang ada. Dalam menyambut acara Sail Banda 2010 ini, pemerintah kota Ambon mengadakan pameran, yang berisi atau memperkenalkan Maluku secara keseluruhan. Dari daerah-daerah tujuan wisata, cinderamata, kuliner, pakaian adat, dll. Aku sibuk mengambil broshur-broshur untuk dipelajari. Aku juga menyempatkan membeli tas kain serba guna seharga Rp 45.000 dan tempat HP seharga Rp. 5.000. Selanjutnya aku berfoto-foto di belakang pameran yang ada tulisan “Ambon Manise” (keren abis!) lalu berfoto di bawah patung Pattimura, pejuang kemerdekaan Indonesia asal Maluku. 

Kota Ambon (Pusat Kota)
Gong Perdamaian
Selanjutnya aku menuju pasar terdekat untuk mencari makan. Karena aku bosen makan ikan setiap hari di kapal, aku memutuskan untuk ke KFC di salah satu Department Store. Wihh, harganya beda sama yang di Jabodetabek nih dengan “bule-bule” memenuhi tempat itu. Aku juga mampir ke Supermarket untuk membeli kebutuhan sehari-hari (bahkan perlengkapan mandiku sampai habis gara-gara mandi khatulistiwa). di hari-hari akhir aku dan rekan-rekan berbelanja oleh-oleh di persimpangan yang ada mesjid warna hijaunya. Nah disini aku cukup boros teman-teman. Karena selain banyak titipan aku juga “mikir” kapan lagi kesini (alibi banget :p). di toko ini jual benda-benda khas Ambon, antara lain : cinderamata dari mutiara, perak dan besi putih, kue-kue home made (kalian harus beli roti kenari!!! Kacau enak bangettt!!), sagu, pakaian, pajangan, minyak kayu putih, dll. Waktu itu juga diadakan acara makan Patita, ada 1000 jenis makanan yang disajikan yang boleh kita icip-icip, TAPI karena aku keasikan nyuci baju sambil dengerin lagu, aku jadi nggak ikutan dan ditinggal dikapal sendirian, huaaaaaaaa~


Pantai Natsepa
Natsepa oh Natsepa
Sebelum ke pantai ini aku sempat berjalan-jalan sendirian di pusat kota, tadi ingin sendiri kesini, karena rekan-rekan yang bersamaku hanya pergi berbelanja, tapi aku segera mencari ide untuk menghubungi rombongan Parker. Pada akhirnya aku bersama mereka yang saat itu beruntung sekali diantarkan Omnya Gracia untuk berkeliling-keliling dan di traktir pula, hehehe. Ketika masuk kawasan, wow! Tenang sekali pantainya, padahal sore itu cukup ramai. Air yang seperti terbagi atas beberapa warna serta langit yang begitu cerah, memeriahkan hariku. Yang sangat-sangat aku sayangkan adalah aku tidak bawa baju ganti (T_T), nyeselnya sampe sekarang gara-gara nggak berenang disana. Akhirnya kegiatanku hanya menikmati keindahan atau memuaskan mataku. Beruntungnya aku berkenalan dengan Tante Lin, pemilik kios Rujak Natsepa. Teman-teman harus mencoba ini nih, terkenal banget. Kelihatannya memang nggak jauh berbeda dengan rujak di Jabodetabek, tapi cobain aja dulu. Rasanya manis banget (kaya aku :p) dan Tante Lin dengan berbaik hati memberikanku 3 porsi dalam satu piring. Malah sebelumnya beliau memberiku secara gratis >_<, tapi aku nggak enak. Aku bercerita-cerita dengannya dan dengan mertua beliau yang merupakan pemilik salah satu penginapan disana yang semua sudah full booked karena ada Sail Banda. Jangan lupa cobain es kopyor juga, wueenaaakk, ces pleng :D

Pantai Liang
Time to relaxing
Kami mengunjungi pantai ini dengan menyewa angkot yang berwarna kuning dan supir (yang ku panggil “bung”) sangat baik sekali. Harga sewanya hanya Rp 80.000/pulang pergi (murah banget!!!). Untuk menuju pantai Liang saja kita membutuhkan waktu ± 1,5 jam. Oalaaahh, di tengah perjalanan kami melewati kawasan perbukitan, desa nelayan dan hutan-hutan kecil, speechless pokoknya! Ketika sampai disana hanya terlihat beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari, alamak! It’s so relaxing J. Ada sebuah dermaga kecil yang kata temenku tempat shootingnya Glenn Freddly dan Dewi Sandra. Aku sudah membawa pakaian untuk berenang sebagai balas dendam karena tidak dapat berenang di Natsepa sehari sebelumnya. Ganti pakaiannya di “kamar ganti” yang open air alias nggak ada atapnya karena Toilet yang asli tutup. Kami segera “nyemplung” dan sangat-sangat bahagia sekali saat itu. Nggak tau kenapa seneng banget main di tempat ini. Airnya bening banget, ada ikan warna-warni yang ikut berenang bersama. Tiba-tiba ada seorang bapak penduduk lokal yang menawarkan jasa perahu kayu miliknya untuk disewakan. Akhirnya kami “patungan” untuk menyewanya, dan harganya Cuma Rp. 10.000 sepuasnya, hehehe. Seru banget kegiatan hari ini, matahari yang terbenam pun menambah nikmatnya suasana disana.  Setelah (kembali) memasukan pasir didalam botol aku segera masuk ke dalam angkot dan pulang (tanpa bilas, karena Toilet tutup).
Sebenarnya ingin lebih lama lagi berada disini, tapi kami harus melanjutkan perjalanan kami, kemana coba??? WAKATOBI, geezzzz. Bonus lagi yang aku terima, daerah yang selama ini aku impi-impikan akhirnya aku dapat pergi kesana, Thanks a lot God!! You’re Awesome :D

Tips :
-     Bagi teman-teman yang tidak ingin kulitnya terbakar (hanya untuk sekedar mengurangi) jangan lupa pakai sun lotion/sun block.
-     Jangan lupa bawa baju renang/baju ganti kalau ingin mengunjungi pantai (daripada menyesal kayak aku :p).
-     Berkenalan dengan orang sana untuk minta petunjuk (informasi), selain itu kalian juga bisa punya “sodara” yang nanti bisa dituju ketika mengunjungi Ambon lagi dan mendapatkan harga yang murah karena dibantu dalam hal tawar menawar, hehe.
-     Siapkan uang tambahan kalau teman-teman ingin jajan, enak-enak soalnya.
-     Bagi yang tidak suka ikan atau seafood harus pinter-pinter nyari fastfood atau kios lainnya, karena mayoritas makanan disini adalah yang dari laut-laut.

Biaya :
Pengeluaranku cukup banyak disini, ya dikarenakan “belanjaan yang harus dibeli”. Tapi kira-kira begini rinciannya :
-     Oleh-oleh                                      = ± Rp. 250.000
-     Belanja kebutuhan                        = ± Rp. 100.000
-     Ongkos kendaraan umum (total)     = ± Rp.   20.000
-     Rujak Natsepa (biaya sukarela)       =    Rp.  10.000
-     Tiket masuk pantai Liang               =    Rp.    3.000
    Total                                             =    Rp. 383.300


Dokumentasi lainnya :
Suasana di depan Lapangan Merdeka dan angkot kuning yang kunaiki
Mobil Bpk. SBY dengan plat no Indonesia 1
Kincir-kincir di Pantai Natsepa
Rujak Natsepa (harga asli Rp. 7.000)
Tante Lin bersama dagangannya
Keceriaan di Pantai Natsepa
Kebersamaan di Pantai Liang
Speachlees :D

See you on my next journey
*next posting “Anugerah mengikuti Sail Banda 2010 (edisi IV: Wakatobi I’m in love)”











2 komentar:

  1. hahaha PARKER SAPA YAH hahahahaaha

    btw nice sharing mbaa.. lanjutGAN

    BalasHapus
  2. hahaha
    makasih yyooo
    mampir-mampir lagi yaa :D

    BalasHapus