Rabu, 27 April 2011

“Wisata sejarah di Candi Jiwa Batu Jaya-Karawang”

Postingan kali ini sedikit berbeda nih temen-temen, karena isinya pelajaran, wkwk. Jadi nggak hanya jalan-jalan seneng aja, belajar itu harus J. Waktu aku masih kuliah di semester 5, aku belajar tentang wisata ziarah. Pada waktu itu kita akan berkunjung ke sebuah candi yang cukup unik yang merupakan hasil penelitian tim dosenku dari fakultas budaya. Candi jiwa namanya, terletak di daerah Batujaya, Karawang-Jawa Barat. Paparan berikut aku ambil dari tugas (laporan) selama aku “penelitian” disana J. Here we go!

Sekilas tentang Kota Karawang
Karawang sebagai salah satu kota di pesisir utara Jawa Barat selama bertahun-tahun telah dikenal sebagai lumbung beras nasional, Namun sebenarnya prestasi kota ini tidak sekadar sebagai penghasil beras semata. Pada zaman perang kemerdekaan, kota ini mengukir sejarah ketika sekelompok pemuda mendesak Soekarno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia dengan membawa Soekarno Ke Rengas Dengklok. Dan hasilnya, sehari setelah peristiwa tersebut Soekarno segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Kini rumah ketika Soekarno pernah diungsikan tersebut masih dapat ditemukan tidak jauh dari pasar Rengas Dengklok. Dalam perkembangannya ternyata Karawang juga menyimpan potensi sumberdaya arkeologi yang sangat besar sejak masa prasejarah, klasik sampai masa Islam tumbuh dan berkembang di Jawa Barat. Dua situs dari masa klasik yakni Batujaya dan Cibuaya, sampai saat ini setidaknya memiliki 30 buah lokasi yang diduga merupakan bangunan candi dari masa Kerajaan Tarumanagara sampai Sunda. Satu jumlah yang berlum tertandingi oleh daerah lain di Jawa Barat dan tentu tidak berlebihan jika Karawang mendapat julukan sebagai Lumbung Candi di Jawa Barat.


Kependudukan
Masyarakat di daerah ini pada umumnya hidup dari bercocok tanam. Oleh karena itu, sebagian besar lahan di daerah Batujaya digunakan untuk areal persawahan irigasi. Pola tanam padi sebanyak dua kali setahun dan pola tata air yang baik menyebabkan daerah ini subur dan menjadi tulang punggung bagi penyediaan beras. Tak heran jika wilayah Karawang yang mempunyai luas wilayah sekitar 3120 Km ini dikenal sebagai lumbung padi nasional.
Lokasi dikelilingin persawahan penduduk
Di samping bercocok tanam, masyarakat yang tinggal di daerah pantai umumnya hidup sebagai nelayan tradisional. Tampaknya dua jenis pekerjaan ini merupakan keahlian yang telah dilakukan secara turun temurun dari leluhur mereka. Hal ini dapat diketahui dari hasil penelitian arkeologi di Komplek Percandian Batujaya yang menemukan bandul jaring dan sisa-sisa kulit kerang pada bata - bata candi.
Dari catatan pemerintah Kolonial Belanda, pada tahun 1684 M daerah ini hanyalah berupa rawa-rawa yang tidak berarti. Baru pada tahun 1706 M atas perintah pemerintah Kolonial Belanda, daerah ini dibersihkan dan dijadikan areal persawahan dan perkebunan. Artinya, sejak runtuhnya Komplek Percandian Kegiatan menanam padi dengan latar belakang candi Blandongan Batujaya, daerah ini menjadi tidak berarti dan baru mendapat perhatian kembali pada akhir abad ke-17 M.


Lokasi
Papan penunjuk arah
Situs Batujaya secara administratif terletak di dua wilayah desa, yaitu Desa Segaran, Kecamatan Batujaya dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Luas situs Batujaya ini diperkirakan sekitar lima km2. Situs ini terletak di tengah-tengah daerah persawahan dan sebagian di dekat permukiman penduduk dan tidak berada jauh dari garis pantai utara Jawa Barat (pantai Ujung Karawang). Batujaya kurang lebih terletak enam kilometer dari pesisir utara dan sekitar 500 meter di utara Ci Tarum. Keberadaan sungai ini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keadaan situs sekarang karena tanah di daerah ini tidak pernah kering sepanjang tahun, baik pada musim kemarau atau pun pada musim hujan.
Lokasi percandian ini jika ditempuh menggunakan kendaraan sendiri dan datang dari Jakarta, dapat dicapai dengan mengambil jalan tol Cikampek. Keluar di gerbang tol Karawang Barat dan mengambil jurusan Rengasdengklok. Selanjutnya mengambil jalan ke arah Batujaya di suatu persimpangan. Walaupun jika ditarik garis lurus hanya berjarak sekitar 50km dari Jakarta, waktu tempuh dapat mencapai tiga jam karena kondisi jalan yang ada.


Penelitian
ini dia Pak Dosenku yang meneliti disana :D
Situs Batujaya pertama kali diteliti oleh tim arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (sekarang disebut Fakultas Ilmu Budaya UI) pada tahun 1984 berdasarkan laporan adanya penemuan benda-benda purbakala di sekitar gundukan-gundukan tanah di tengah-tengah sawah. Gundukan-gundukan ini oleh penduduk setempat disebut sebagai onur atau unur dan dikeramatkan oleh warga sekitar. Semenjak awal penelitian dari tahun 1992 sampai dengan tahun 2006 telah ditemukan 31 tapak situs sisa-sisa bangunan. Penamaan tapak-tapak itu mengikuti nama desa tempat suatu tapak berlokasi, seperti Segaran 1, Segaran 2, Telagajaya 1, dan seterusnya.
replika batu bata yang menjadi dinding candi, liat ukurannya deh -__-
Sampai pada penelitian tahun 2000 baru 11 buah candi yang diteliti (ekskavasi) dan sampai saat ini masih banyak pertanyaan yang belum terungkap secara pasti mengenai kronologi, sifat keagamaan, bentuk, dan pola percandiannya. Meskipun begitu, dua candi di Situs Batujaya (Batujaya 1 atau Candi Jiwa, dan Batujaya 5 atau Candi Blandongan) telah dipugar dan sedang dipugar. Walaupun belum didapatkan data mengenai kapan dan oleh siapa candi-candi di Batujaya dibangun, namun para pakar arkeologi menduga bahwa candi-candi tersebut merupakan yang tertua di Jawa, yang dibangun pada masa Kerajaan Tarumanegara (Abad ke-5 sampai ke-6 M). Sampai tahun 1997 sudah 24 situs candi yang ditemukan di Batujaya dan baru 6 di antaranya, umumnya merupakan hanya sisa bangunan, yang sudah diteliti. Tidak tertutup kemungkinan bahwa masih ada lagi candi-candi lain di Batujaya yang belum ditemukan. Yang menarik, semua bangunan candi menghadap ke arah yang sama, yaitu 50 derajat dari arah utara. Juru kunci situs batujaya ini yang sekaligus menjadi pengurus bernama Pak Kaisin Kasin.


Candi Jiwa
Penampakan Candi Jiwa
Candi Jiwa yang dikenal sebagai Unur Jiwa, terletak di tengah areal persawahan berupa gundukan tanah yang berbentuk oval setinggi 4 meter dari permukaan tanah. Bangunan yang berukuran 19 x 19 meter dengan tinggi 4,7 meter ini tidak mempunyai tangga masuk dan di bagian permukaan atas terdapat susunan bata yang melingkar dengan garis tengah sekitar 6 meter yang diduga merupakan susunan dari bentuk stupa. Nama Candi Jiwa diberikan penduduk karena setiap kali mereka menambatkan kambing gembalaannya di atas reruntuhan candi tersebut, ternak tersebut mati. Candi yang ditemukan di situs ini seperti candi Jiwa, struktur bagian atasnya menunjukkan bentuk seperti bunga padma (bunga teratai). Pada bagian tengahnya terdapat denah struktur melingkar yang sepertinya adalah bekas stupa atau lapik patung Buddha. Pada candi ini tidak ditemukan tangga, sehingga wujudnya mirip dengan stupa atau arca Buddha di atas bunga teratai yang sedang berbunga mekar dan terapung di atas air. Bentuk seperti ini adalah unik dan belum pernah ditemukan di Indonesia. Ketika umat Budha melakukan ritual ditempat ini mereka mengitari candi jiwa seturut dengan perputaran arah jarum jam.
Jalan setapak yang akan dikelilingi umat Budha saat mengadakan ritual
Bangunan candi Jiwa tidak terbuat dari batu, namun dari lempengan-lempengan batu bata. Pada masa lampau, masyarakat membuat batu bata dengan menggunakan kayu sebagai media bakarnya, itulah yang membedakan batu bata pada masa lampau yang lebih terlihat gosong dibandingkan dengan batu batu masa sekarang yang dibakar menggunakan oven, walaupun suhu bakaran kedua-duanya berkisar 45 derajat celcius. Dan yang menjadi keunikan, batu bata didaerah batujaya itu berukuran sangat besar dibandingkan dengan ukuran batu bata di daerah Jakarta dan sekitarnya.  


Candi Blandongan
aku bersama teman sekelompok (Ali) di Gapura Candi Blandongan
Nama Blandongan diambil dari dialek setempat yang identik dengan pendopo atau bangunan besar untuk pertemuan atau menerima tamu, dikarenakan lokasi candi tersebut berada sering dijadikan tempat peristirahatan seusai menggembalakan ternak. Candi ini memiliki bentuk bujur sangkar berukuran 24,2 x 24,2 meter. Dari penelitian yang telah dilakukan terhadap candi Blandongan, diambil kesimpulan bahwa Candi Blandongan adalah candi utama dari kompleks candi-candi tersebut. Kesimpulan tersebut diambil berdasarkan ukuran candi dan adanya pintu masuk pada  ke-empat sisi candi dengan masing-masing sisi tersebut terletak disudut Tenggara, Barat Daya, Timur Laut dan Barat Laut dari mata angin. Pintu-pintu tersebut diperkirakan merupakan akses masuk ke bagian tengah candi untuk melakukan upacara keagaaman atau meletakkan sesaji. Lubang silinder berdiameter kira-kira setengah meter yang terletak pada bagian muka dari pintu masuk, diperkirakan dulunya merupakan tiang penyangga untuk bagian atas atau sebagai gapura. 
Lubang yang bekas tiang Gapura
Dari sisa-sisa reruntuhan bisa dibagi menjadi tiga jenis bahan penyusun candi, yakni batu andesit digunakan pada beberapa bagian di bawah candi, batu bata yang merupakan bahan dominan, digunakan untuk membangun badan candi, sedangkan batu-batuan kecil yang direkatkan dengan lapisan putih diunakan untuk ornamen atap candi. Lapisan putih yang tampak seperti kapur itu, menurut para arkeologi diperkirakan dibentuk dari serpihan kerang. Dengan adanya bahan-bahan penyusun tersebut, pada jaman dulu tentunya candi ini amatlah megah, namun sayang sekali tidak ada literatur yang bisa dijadikan pedoman seperti apa bagian atas dari candi Blandongan ini.


Kelebihan Situs Batu Jaya
Ø Akses menuju situs baik keadaannya, serta jarak tempuh dari jalan utama sangat dekat, hanya sekitar ± 50 meter
Ø Harga tiket masuk sangat terjangkau (Rp 1.000), jadi seluruh kalangan masyarakat dapat mengunjunginya tanpa ada masalah dengan keuangan.
Ø Kawasan objeknya luas sehingga mampu menampung banyak pengunjung.
Ø Pedagang hanya berada dipintu gerbang yang cukup jauh dari objek dan hanya ada satu, yaitu penjual minuman dan makanan ringan.
Ø Pengurus objek sangat ramah dan terbuka terhadap para pengunjung.
Ø Persawahan disekeliling objek menjadi faktor pendukung bernuansa alami serta dapat menjadi educative field untuk pengunjung yang membawa anaknya, serta dapat menjadi media pelepas penat dengan kehidupan di kota besar, yang hampir tidak ditemukan sawah satupun.
Ø Lingkungannya bersih dan terawat. Masyarakat ataupun pengunjung sebagian menganggap kawasan tersebut sebagai tempat yang sakral dan tabu bagi mereka untuk membuang sampah sembarangan, namun hanya segelintir orang yang jahil dan tidak bertanggung jawab yang membuang sampah di area persawahan.



Kekurangan Situs Batu Jaya
Ø Area parkirnya yang sangat sempit karena hanya mengandalkan halaman rumah warga.
Ø Jalan memasuki objek sangat sempit, kalau bukan pengemudi yang mahir pasti akan susah untuk melewatinya, dan kabel-kabel listrik yang terlalu rendah menyebabkan ketika kendaraan (bis) memasuki jalan kecil tersebut warga sekitar harus menaikan kabel listrik dengan menggunakan bambu agar bis dapat lewat.
Ø Panas mataharinya begitu menyengat sekali, sehingga pengunjung tidak dapat bertahan lama tanpa adanya payung atau penutup kepala seperti topi, bahkan beberapa orang teman kami hampir pingsan karena tidak kuat menahan panasnya matahari yang begitu menyengat.


Tips :
-    Pakai sun block untuk mengurangi kegosongan :p.
-    Pakai pakaian kasual dan topi karena disana “agak” panas, haha.
-    Kalau nggak kuat bawa paying dan air mineral agar tidak dehidrasi.


Biaya :
Biaya berupa iuran kolektif yang sudah termasuk transport dan makan.

Dokumentasi lain :
Sisa reruntuhan yang ada di "museum mini" di samping rumah Pak Kaisin Kasin 
Candi jiwa bersama Vega :)
si Ali jadi bahan percobaan @ Candi Blandongan
Reruntuhan Unur Lempeng
Rombongan di Candi Blandongan
Bpk.  Kaisin Kasin 
Jamuan makan di rumah Pak Kaisin Kasin 
Salah asuh, hahaha




See you on my next journey
*next posting “Lampung as my very first time in Sumatra







5 komentar:

  1. Good job,,klo ada cerita Horor/mistik Nya tambah seru kali ye,,biar yg baca jd penasaran,,hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hei "No Name" :p.
      Terima kasih sebelumnya sudah membaca tulisanku dan terima kasih atas masukannya. Dilain kesempatan jika ada cerita atau pengalaman mendukung yang berkaitan dengan lokasi akan aku masukan. Stay tune! :)

      Hapus
  2. Hallo mbak Laisa.

    Saya Rina, ibu guru kelas 6 di Cikarang. Saya senang membaca tulisan Anda dan kebetulan, kelas saya akan field trip ke Candi Jiwa ini.
    Susahnya tidak ada nomer telp yang bisa dihubungi disana (mungkin belum ya).
    Apa mbak Laisa punya contact number Pak Kaisin Kasin?
    Thank U

    BalasHapus
  3. Hallo Ibu Rina,
    Salam kenal dan terima kasih telah membaca tulisan saya.
    Akan saya coba tanyakan kepada teman-teman saya ya bu. Karena pada waktu itu team dosen langsung yang merupakan penemu situs yang merancang perjalanan. Nanti jika sudah mendapat nomernya akan saya kabarkan :)

    BalasHapus
  4. wow.. mantap.. thank's infonya sangat bermanfaat..

    www.kiostiket.com

    BalasHapus