Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Desember 2012

Marine Study around Pelabuhan Ratu - Sukabumi

Untuk menambah nilai guiding  yang kurang aku dan teman - teman kelas travel 2007 diwajibkan untuk mengikuti program guiding  ke Pelabuhan Ratu oleh dosen kesayangan kita, Bapak Boedihartono. Perjalanan ditempuh dari kampus dengan menaiki bus yang sudah disewa untuk 2 hari 1 malam. Kami sudah membagi giliran guiding selama perjalanan. Perkiraan bahwa setiap mahasiswa akan mendapatkan jatah waktu selama 30 menit sepanjang perjalanan sebelum berganti giliran dengan mahasiswa lainnya. Namun naas pada saat itu daerah sepanjang Lido hingga pasar Cibadak padat merayap sehingga materi yang tadinya sudah disiapkan untuk passing sight mendadak buyar. Salah satunya dialami oleh sahabatku Ali Zaenal.Ketika materi guiding yang telah ia siapkan membahas tentang perkebunan pinus yang ada di dekat area tersebut namun bus terjebak kemacetan didepan pasar. Sehingga dalih atau ide pun tidak dapat mengalir, apalagi kami harus guiding  menggunakan bahasa Inggris.
Singkat cerita siang itu ketika sampai di Pelabuhan Ratu kami segera menuju T.P.I (Tempat Pelelangan Ikan) untuk melihat ragam ikan apa saja yang dapat dihasilkan nelayan setempat dan tentu saja untuk membelinya. Aku pun iseng untuk terus berkeliling di sudut - sudut pasar, dan alangkah terkejutnya ketika aku memperhatian seorang penjual sedang menyiram lantai tokonya menggunakan air dari sebuah ember yang diambil dari tepian laut. Tidak ada hal yang aneh kan? Eh tapi tunggu dulu, setelah aku mengintip darimana air itu berasal tiba-tiba bulu kuduk ini merinding karena air yang diambil merupakan air dari tepian laut yang dipenuhi dengan sampah yang mengapung dan beberapa bangkai binatang seperti tikus yang sudah kembung. OMG! Aku menyempatkan diri juga untuk bertanya - tanya pada penjual ikan bagaimana cara untuk membedakan kelamin pada kepiting haha. Jadi kalau kepiting jantan bentuk atau pola pada perutnya akan terlihat seperti segitiga atau kerucut namun pada kepiting betina akan berbentuk oval. Pada saat itu kami semua ditraktir Pak Budi berbelanja seafood. Rp 20.000? Rp 50.000? Rp 100.000? tentu tidak. Jadi berapa donk ditraktirnya? yaitu sekitar Rp 2.000.000!!! Kebayang nggak berapa banyak ikan, cumi dan udang yang kami beli dan bagaimana kami menghabiskannya? Misteri Ilahi wkwkw.
Setelah makan siang kami menuju penginapan yang sudah kami sewa untuk bermalam. Beristirahat sebentar dan merapihkan barang k(ami segera berangkat lagi menuju daerah Cisolok untuk mengunjungi industri rumah tangga pembuatan abon ikan. Walaupun hujan deras turun tidak memadamkan semangat kami (yakin) :p. Si empunya usaha menjelaskan bagaimana pembuatan abon ikan tersebut. Pertama ikan yang kebanyakan berjenis tenggiri diuap dan dikeringkan menggunakan alat - alat sederhana seperti dandang raksasa dan tunggu pemanas dengan kayu bakar. Minyak yang keluar dari proses tersebut dijadikan minyak ikan yang banyak digunakan pada masakan Chinese dan Jepang. Kulit dari ikan tenggiri juga dapat dijadikan kerupuk. Setelah itu daging ikan digiling (dihaluskan) dan diberi bumbu sebelum masuk tahap pengeringan akhir yaitu bisa dengan sangrai (goreng kering tanpa minyak). Pemasaran abon tersebut juga sudah meluas ke luar daerah Sukabumi dan rasa dari abon tersebut juga bermacam-macam. Namun bagi aku yang kurang menggemari ikan rasa abon itu masih cukup amis, ya kalau boleh memilih aku lebih suka abon sapi saja :). 
Tapi salut dengan ide untuk membuat usaha ini. Memanfaatkan sumber daya alam yang melimpah di daerah tersebut dengan bijak dan tidak berlebihan. Ketika hari mulai sore kami kembali ke penginapan untuk istirahat dan acara bebas. Aku dan sahabat-sahabat berencana mau berenang atau sekedar main di pantai. Namun segera kuurungkan niatanku itu karena menemukan bangkai ayam di bibir pantai yang mungkin dari setadi sudah diombang-ambingkan ombak which is means the water already contain that "thing" particle for sure haha. Akhirnya kami hanya duduk - duduk galau sambil cerita tentang kepatah hatian kami, hais mending deh daripada patah arang. Kami memutuskan untuk kembali ke penginapan ketika hari semakin gelap. Mandi, ganti baju dan memulai BBQ Party di halaman belakang penginapan sampai larut malam.
Keesokan paginya kami masih punya tugas untuk menghabiskan seafood yang masih sisa. Saat itu aku dan Vega Lidya punya jatah sebagai mesin pengeruk alias penghabisan. Setelah kenyang kami segera check out dan melanjutkan perjalanan menuju tempat pembuatan ikan asap dan terasi. Kalau ikan asap sih terbilang normal, hanya dalam jumlah yang banyak ikan tongkol dimasukan ke dalam dandang, diberi garam dan dipanggang diatas bambu yang sebagian sudah menjadi arang, masuk ke dalam dapur tersebut seperti berada dalam sauna dengan essence  tongkol yang amis-amis gimana gitu. Selanjutnya ke tempat pembuatan terasi, well jadi paham waktu masa kecil dulu kalau kaki kotor atau belum mandi suka diejek "bau terasi" karena aseli bau abis. Jadi udang-udang kecil yang sudah ditangkap nelayan akan dijemur dibawah terik matahari dalam jumlah banyak, so  kasarnya di biarkan busuk terus baru diulek rame-rame deh. Tapi  so what deh bikin nasi goreng, sambel atau tumis kalau dikasih terasi lebih enak kan? Hayoo ngaku! :D Selesai dari sana kami melanjutkan perjalanan untuk kembali menuju kampus dan meneruskan praktek guiding  kami OWH NO~. 
Oia hampir lupa sebelum mengunjungi tempat pembuatan ikan asap dan terasi kami menyempatkan diri untuk mengunjungi tempat yang membuatku penasaran, yaitu Pantai Karang Hawu. Kata Hawu berasal dari bahasa Sunda yang berarti kompor. Nama ini diberikan karena pada permukaan karang tersebut terdapat lubang-lubang yang mirip pada kompor untuk jalur masuk sumbu. Di tempat inilah konon katanya Nyai Roro Kidul lompat ke laut. Walaupun aku dan rekan - rekan sempat naik ke petilasannya untuk hanya sekedar melihat - lihat, aku tidak akan memaparkan tentang kisah itu karena bukan porsiku. Selain itu hal yang menarik disini adalah sebuah papan yang tebilang cukup besar menempel pada pos tempat para tukang ojek mangkal. Pasti kalian sudah tidak asing dengan nama yang ada dipapan tersebu. Siapakah? silakan dibaca sendiri ya

Biaya:
Kalau tidak salah sekitar Rp 170.000 apa gratis ya? haha namanya juga program

Tips:
- Kalau udah berkunjung ke tempat-tempat seperti ini banyak-banyakin bertanya untuk menambah pengetahuan dan informasi yang kita miliki
- Menjaga kesehatan dengan memperhatikan lingkungan sekitar, tidak jajan sembarangan atau memaksakan untuk melakukan aktivitas pada tempat yang kurang pas (contoh dalam bacaan adalah ketika aku mengurungkan niat untuk berenang karena melihat bangkai ayam) bukannya have fun  yang ada malah kerepotan lagi kalau sakit atau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
- Respect customs even you dont follow :)


 
See you on my next journey
*next posting "History of A Small Country"


Kamis, 21 Juni 2012

Great Escape (Other Side of Bali - Bloo Lagoon Padang Bai)

Aku dan Andin (The Gosongers)
Saat ini aku sedang menetap di Bali, tepatnya di Denpasar untuk bekerja dan mencari pengalaman baru. Nah mungkin di beberapa kesempatan kedepan aku akan menceritakan tentang petualanganku disini. Dari mulai yang hanya jalan-jalan biasa sampai menginap akan aku coba tampilkan. Untuk ulasan yang pertama aku mulai dari perjalananku menuju Padang Bai. Mau ke Lombok? haa I wish, tapi karena waktu dan keuangan yang kurang memungkinkan aku hanya main di Bloo Lagoon. Tapi eits jangan salah, nggak kalah indah juga kog disini. Baiklah cerita dimulai...

Singkat cerita waktu itu aku dan teman sekelasku waktu jaman kuliah - Andin (yang akhirnya menjadi partner in crime - apalagi urusan makanan) bekerja disalah satu travel yang dimiliki oleh orang asing yang tinggal di Bali. Kepenatan di kantor membuat raga ini merindukan liburan. Padahal sejujurnya everyday is holiday in here lol. Tetep deh butuh waktu untuk sekedar tidur-tiduran di pasir. Akhirnya kami merencanakan untuk pergi ke suatu tempat dengan waktu dan budget terbatas. Seperti keterangan diatas kami memutuskan untuk pergi ke Bloo Lagoon - Padang Bai. 

Pemandangan disebelah kiri
Bermodal dari browsing diinternet, lalu dilanjutkan menelepon losmen dan dituntaskan dengan modal nekad. Kami berdua naik motor tantenya si Andin. Perjalanan dimulai di hari Sabtu setelah pulang kantor, sekitar pukul 14.00 WITA. Terik matahari menemani perjalanan kami. Daerah Timur Bali benar-benar menyajikan pemandangan yang berbeda dari yang kami lihat sehari-hari, baik di Denpasar, Kuta, Nusa Dua, Sanur dan sekitarnya. Di sisi sebelah kiri jalan kami melihat daerah perbukitan sedangkan di sebelah kanan merupakan hamparan persawahan dengan lautan sebagai background. Kami menyempatkan untuk mengisi bensin full tank dulu untuk jaga-jaga bila susah untuk menemukan tempat pengisian bensin nantinya. Maklum ini pertama kali seumur hidup aku menjelajah kesana.

Sensasi baru nih tidur disini
Sekitar pukul 16:00 WITA kami sampai di losmen pilihan kami, Topi Inn. Losmen ini dimiliki oleh seorang berkebangsaan Belanda yang menikah dengan orang Indonesia, dengan menggunakan Eco - Accommodation. Tidak ada AC, tidak ada bathtub, tidak ada pemanas air, dsb. Nah karena kamar pada hari itu penuh dan mengingat kami hanya menginap 1 malam saja, akhirnya aku mengambil yang dormitory saja. Alias tidur di semi-open air di lantai atas. Dengan kasur yang berjejer dilengkapi dengan jaring anti nyamuk (kelambu) yang dipasar di langit-langit. Yang cukup mengherankan adalah menurut pengamatanku kebanyakan pengunjung baik di losmen atau di daerah itu sendiri adalah turis asing. Aku hanya bertemu Mbak Krida - teman 1 losmen yang merupakan sesama petualang yang datang dari Jakarta. Aku juga disana bertemu dengan Agnes - orang Perancis, yang juga hobi berpetualang. Setelah beres-beres dan ganti pakaian aku, Andin dan mbak Krida melunjur ke Bloo Lagoon. Lokasinya dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari losmen. Tapi saat itu kami memilih untuk menggunakan motor karena medannya yang naik turun. Sampai di parkiran juga masih harus menuruni sejumlah anak tangga untuk sampai ke bibir pantai. Sore itu tidak banyak hal yang dapat dilakukan. Mengingat hari sudah sore, ombak yang semakin kencang dan pantai disebelah Timur yang menyulitkan kami untuk melihat sunset.  Setelah gelap kami memutuskan untuk kembali ke losmen.

Agnes, aku, Andin dan mbak Krida
Kami bertemu dengan Agnes dan bertukar cerita sampai tengah malam. Setelah mandi dan selesai mengobrol aku putuskan untuk mencoba tempat tidur koboy ini LOL. Sambil menikmati WiFi gratis aku masih tidur-tidur ayam. Sekitar pukul 02:00/03:00 dinihari aku mendengar suara kucing yang sedang berkelahi tanpa menduga kalau kucing itu akan melompat ke arah kita yang sedang tidur. Pada saat itu deretan kasur terdiri dari kami (aku, Andin, Agnes) dan turis asing lainnya yang semuanya perempuan. Sontak saja Andin dan Agnes teriak dengan suara yang ruar biasa kencangnya. Aku yang udah nahan-nahan ketawa sampai gigit-gigit bibir. Takut kalau suara ketawaku dapat membangunkan yang lain atau memancing tawa yang lainnya. Tapi herannya kog itu bule-bule nggak ada yang bangung/keluar dari kamar ya? mungkin mereka sudah terlalu lelah haha. For your information guys: Don't ever leave your mosquito repellent behind! Banyak nyamuk aja disini. Kerjaanku malam itu garuk sana-garuk sini. Sampai aku pakai lagi celana jeans beserta jaketnya karena nggak bisa tidur.

Hello! I'm Bloo Lagoon. Do you want to come for a visit?
Bangun-bangun sekitar pukul 7:30 WITA badanku bentol-bentol. Terima kasih nyamuk-nyamuk yang lugu! Agnes sedang siap-siap untuk melanjutkan perjalanannya ke Lombok, begitupun Mbak Krida yang harus balik ke Denpasar untuk menghabiskan waktunya sampai keberangkatannya kembali ke Jakarta. Akhirnya beliau hanya bisa menemani kami sebentar di Bloo Lagoo. Sebelumnya kami juga meminjam peralatan snorkeling di losmen. Kembali lagi karena budget  yang terbatas (JAELAH) kami memutuskan untuk main-main di Bloo Lagoon aja. Tapi ternyata pilihan kami nggak keliru kog. Itu sudah cukup indah buat kami. Ikannya banyak sekali, meskipun kami belum sempat menikmati keindahan terumbu karangnya tapi nggak jadi soal deh. Selain itu lokasi Bloo Lagoon yang lebih mirip private beach  memanjakan kami seharian. Dan seperti yang sebelumnya aku bilang, nggak ada turis domestiknya disini, heran ya? Kerjaan kami disana; nyemplung, ngemil, berjemur, nyemplung, ngobrol, foto-foto, nyemplung, nyemplung, nyemplung dan nyemplung. Nggak kerasa lebih dari 6 jam kami disana dan nggak bosen-bosen. Mungkin kalau nggak kita laper berat kita nggak akan keluar dari air. Sebelumnya kami sudah janjian sama pihak losmen yang ramah sekali untuk menaruh barang-barang kami di ruang staff. Soalnya kan losmen itu check outnya cuma sampai jam 11pagi. Jadi begitu kembali ke hotel kami numpang mandi (dikamar mandi yang nggak ada pintunya depan restaurant) tapi masih bisa lha ketutupan tembok.

Kami melanjutkan perjalanan pulang dengan badan yang belang sana-sini. Yeah sun bathing! Gaya banget deh ah~. Kami mampir dulu di Circle K, dari yang mau beli cemilan sampai makan besar. Kog bisa? lha iya, wong yang dibeli; Hot dog big size, rootbeer, mie instant dan chiki. Yah namanya juga abis berenang (alasan).

Tips :
·    Cari informasi dulu sebanyak-banyaknya tentang daerah yang akan dituju
·    Jangan takut untuk mengunjungi daerah yang belum banyak orang tahu
·    Jangan malu untuk kenalan (talk to my self). Akan sangat berguna nantinya
·    Yang mau sun bathing jangan lupa sun lotionnya atau tahu waktu, jangan sampai perih-perih 
     gimana gitu. Colek si Andin LOL

Total biaya:
Bensin                    :  Rp    15.000 (perkiraan lupa soalnya :p)
Losmen                  :  Rp    40.000
Sewa alat snorkel   :  Rp    30.000
Makan malem         :  Rp    10.000
Baterai                    :  Rp    15.000
Jajan                       :  Rp    30.000
            Total           :  Rp   140.000
                    

                                                             Dokumentasi lainnya:
Bocor terus too bad
Pemandangan dari sudut sebelah kiri
Bikin terus pengen nyemplung
Country side of Bali
See you on my next journey
*next posting "Wisata Hutan Bakau di Bali"

Rabu, 14 Desember 2011

Unforgettable Karimun Jawa (Day I)

Sepaadaaa teman-teman!! Akhirnya aku kembali berpetualang. Petualangan yang sekarang tentunya nggak kalah seru dari yang sebelum-sebelumnya dan merupakan pengalaman baru buatku. Yuhuu…Camping di pulau (pinggir pantai tepatnya). Dari uang yang super sangat minim, peralatan “perang” pinjaman, tergeletak di lantai kapal,  tenaga yang sampai titik darah penghabisan, uji nyali, belajar mandiri, sampai nggak mandi 3 hari, hahaha. Dimanakah tempat yang sangat membuatku terpesona sampai sebegitunya pengorbanan yang kuberikan?? Yess!! KEPULAUAN KARIMUN JAWA~ mau tau cerita selengkapnya? Let’s pack your bags
 
Abis "gelap" terbitlah "terang"
Singkat cerita perjalanan aku mulai dengan menaiki kereta Ekonomi pertama menuju Stasiun Cikini untuk janjian dengan seniorku di kampus, Ka Ira. Dari sana kami melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Senen dengan menggunakan bajaj. Sampai di Senen kami segera naik kereta bisnis jurusan Senen-Tawang, yang harga tiketnya Rp 125.000. Beberapa hari sebelumnya ka Ira sudah membeli tiket agar kita mendapat tempat duduk, ya pada waktu itu cukup padat karena ada hari libur Nasional. Perjalanan menuju Semarang ± 8 jam. Begitu sampai si Primus (saudara seperjuanganku pada event Sail Banda 2010) dengan setia menjemput kami. Rumah si Primus yang terletak di daerah Tlaga Sari menjadi basecamp kami. 


Sore itu kami ditraktir si Primus makan siang dan kami segera meluncur ke markasnya WAPEALA UNDIP (mahasisWA PEcinta ALAm UNiversitas DIPonegoro). Kami berkenalan dengan beberapa sahabatnya si Primus disana. Kami dijamu dengan sangat apik dan dengan baik hati juga mereka mau meminjamkan kami alat-alat camping dan snorkeling serta mengajak kami lain waktu untuk berpetualang bersama (bahkan rafting dan naik ke Kilimanjaro, waaaa~). Tidak lama berselang kami ke Rumah Primus untuk berkenalan dengan orang rumahnya, istirah++at dan menyiapkan peralatan. Kami juga patungan untuk membeli logistik selama kami di pulau #saaahh. Kesempatan ini juga tidak aku lewatkan begitu saja. Teman-teman Sail Bandaku yang berdomisi di Semarang dan sekitarnya datang mengunjungiku waaalaah makasihhh yaah, xoxo. Ternyata karena 1 dan lain hal untuk menyiapkan barang-barang menyita waktu kami sampai hampir jam 1 pagi, padahal aku juga belum istirahat dan harus bangun jam 4 pagi (oh indahnya :p). Begitu selesai makan aku langsung mati rasa di kasur, kayanya badan udah nggak bisa digerakin lagi cckckkc.
Koki Ira  

Beberapa jam kemudian sekitar jam 4 pagi kami bangun dan segera bersiap-siap. Tenda yang semalam kami cuci dilipat dan dimasukan kedalam tas. Aku tampil prima dengan hanya cuci muka dan gosok gigi :D. Ternyata Greta adiknya si Primus dengan baik hati mau mengantarkan kami ke Pelabuhan Kartini, Jepara. Setelah berpamitan dengan ibunda Primus dan menjemput temannya Greta kami segera meluncur, tau nggak bagasi mobil sampe ceper ga­ra-gara keberatan tas yang gedenya pada segede kulkas, hahaha. Sepanjang perjalanan kami mendengar dan menyanyikan lagu Souljah sambil melihat matahari terbit. Wohooo~ what a great day. Sekitar jam setengah 9 pagi kami sampai di Pelabuhan Kartini-Jepara. Karena tadi kami belum sarapan akhirnya kami menuju warung makan yang ada dengan sebelumnya mengucapkan terima kasih kepada Greta. Selesai makan kami langsung berjalan mantap menuju KM Muria yang akan membawa kami menyebrangi Laut Jawa. Yang kalau di peta Kepulauan Karimun Jawa tidak begitu jauh namun cukup memakan waktu tempuh 8 jam J. Kapalnya lebih kecil bila dibanding ferry penyebrangan ke Sumatera atau Bali. Aku mulai nggak sabar menunggu kapalnya berangkat. 


Kecil-kecil cabe rawit nih
Dan akhirnya jalan jugaa sekitar jam setengah 10. Karena aku masih ngantuk aku tidur-tidur ayam deh dan asli ternyata aku masuk angina, karena semalem masih keluyuran di Semarang naik motor untuk mencari logistik. Saat itu latihan selama Sail Banda alias hidup diatas kapal seakan terlupakan. Aku terus buang-buang angina dari mulut (ups untung bukan dari p**** :p). Akhirnya kami memutuskan untuk naik ke Anjungan (astaga kangen amet sama kapal MKS 590). Kami berjemur (halah) sambil ngobrol dan mendengarkan musik sebelum Teddy datang. Teddy adalah kenalan kami yang merupakan turis asing dari Bulgaria. Dia adalah seorang pendaki gunung yang datang ber2 pacarnya. Wedeh Mau keliling Jawa buat naik gunung nih mereka. Kami sempat berbincang-bincang sampai akhirnya si Teddy nggak kuat sama guncangan ombak yang lumayan besar, maklum biasa di gunung dia :D. Terik matahari tambah membuat kepalaku pening #logatsipoltak. Akhirnya aku udah masa bodo dan tiduran didepan ruang nahkoda disamping mas-mas yang pada tidur juga, hahaha. But Thanks God ka Ira mengajakku ke samping kanan kapal yang lebih teduh dan lebih private (yah better laah). Aku langsung nyalain musik instrumental dan berlayar ke Pulau Kapuk alias Molor.
This's LIFE!
Waktupun berlalu dan secercah harapan pun muncul. Tiba-tiba klakson kapal dibunyikan, tanda sebentar lagi kapal akan bersandar. Aku terbangun ketika banyak orang yang lewat melangkahiku, secara tiduran di lantai. Kami segera bergegas nggak sabar ingin menginjakan kaki di Pulau itu. Begitu pintu deck dibuka kami langsung ngacir keluar. Berlari-lari kecil sambil mengeluarkan kamera dan berpose di depan gerbang selamat datang. Sesudah itu ketika melihat rombongan wisata dijemput dengan kendaraan, munculah pertanyaan “kita mau kemana ya?” hahhaha! Akhirnya modal nekad kami terus berjalan, sambil memikirkan mau tidur (baca : camping) dimana. Sampai berkeinginan untuk tidur di lapangan bola di depan kelurahan. Singkat cerita ada seorang bapak pengayuh becak menghampiri kami untuk menawarkan jasanya menyebrangkan kami ke pulau seberang (Pulau Menjangan Besar). Tapi kog aku mencium aroma-aroma kelicikan yah (emang ada baunya?). Setelah gelagatnya semakin nggak enak , kami bersyukur bertemu dengan Pak Anto (local guide sekaligus pengusaha wisata disana) yang berniat membantu kami. Beliau menyebrangkan kami dengan GERATIS ke Menjangan Besar dan membawa kami tour dikemudian hari dengan harga terjangkau! Thanks God! Masalahnya di dompet hanya tersisa beberapa lembar uang saja T_T. 
Muka kena badai
Kami tiba di Mejangan Besar beberapa saat sebelum Magrib. Segera kami menata “rumah” kami. Aku membantu primus memasang tenda dan ka ira mulai masak. Beberapa saat kemudian berhembuslah angin (yang menurutku) rada asing. Tiba-tiba aku ngerasain cemas gitu. Dan sekonyong-konyong tenda kami copot dari pasaknya dan terhempas ke belakang pondok. Akhirnya kami memutuskan untuk tidur di dalam pondok dengan menutupi celah dengan tenda kami, agar tidak kedinginan. Untuk menyalakan trangia aja butuh 3 orang. Karna anginnya super dupper kuenceng. Persediaan air tawar yang kami bawa hanya 2 liter. Jadi kami prioritaskan untuk minum saja. Susah payah akhirnya masakan jadi (maacih mama ira). Kami makan dengan lahap, walaupun dengan menu sederhana dan nasi yang legit-legit gimana gitu. Setelahnya kami mengurungkan niat untuk membuat api unggun, takut kalau apinya terbawa angin dan mengakibatkan kebakaran. Kamipun harus berusaha sekuat pikiran dan tenaga untuk menyalakan lampu badai (ini nama harus diganti selama disana “lampu kena badai” :p).
Rumah selama 3 hari kedepan
Malampun tiba. Cahaya bulan dan bintang menyinari kami ditengah gelapnya Menjangan Besar. Aku menyalakan Playlist di Hp untuk mengusir sepi. Dari becandaan yang hanya “orang2 tertentu” aja yang ngerti sampai akhirnya bercerita tentang kehidupan! Asli nggak bohong sampe sesi nangis2 nggak karuan (indahnya). Ketika badan terasa lelah dan mata mulai sulit untuk dibuka, kami memutuskan untuk tidur. For your information anginnya makin kenceng lho pemirsa. Aku tuh sebenernya orang yang termasuk sensitive kalo tidur, ada suara aja masih bisa denger, yah ibarat kata tidur-tidur ayam. 
Hallo nama aku Primus
Nah mulai hening aku mulai mendengar kejanggalan nih (Boo ini agak horror sepertinya, siap2 yah dan pastikan kamu nggak sendirian bacanya, padahal nulis ini juga lagi sendirian #curcol). Pertama aku denger suara anak ayam apa burung gitu dibelakangku, terus pindah ke samping, terus nggak lama pindah lagi kedepan. Aku langsung spontan nanya sama ka ira en primus klo mereka juga denger apa nggak. Ka ira bilang nggak denger tapi si primus bilang dia juga denger. Tiba-tiba tenda yang kami pasang dicelah-celah pondok terlepas dan angin masuk kencang sekali. Aku segera bangun untuk membetulkannya. Karena saat itu gelap sekali aku mencoba untuk mencari headlampku terlebih dahulu, tapi nggak ketemu. Padahal tadi ku taruh dibelakang kepala, yah mungkin terselip atau karena gelap nggak kelihatan. Akhirnya si primus yang pegang senter maju duluan sementara aku masih sibuk nyari headlamp dan ka ira masih tidur-tiduran. Sepersekian detik setelah primus berdiri dan membuka tenda dia berteriak dan langsung jatuh ke lantai kayu dan menarik selimut yang menutupi badan ka ira (aseli masih merinding inget kejadian itu) dan HENING! Sontak aku yang lagi membungkuk nyari barang langsung tiarap. Pikiran pertama yang terbesit adalah ada maling didepan pondok. Doh! Ini badan langsung dingin seluruhnya. Karna aku pikir Cuma ada 2 cewe en 1 cowo disini dan itu gelap banget, mana barang-barang berceceran lagi. Aku langsung keinget dompet sama kamera dan hp yang masih nyala muter lagu instrumental.
Kapal oleng captain
 Aku sama ka ira sambil gandengan tangan (apa coba! Wkwkwk) sambil terus berdoa. Kita langsung ngobrol (baca : kode) pake bahasa inggris, takutnya itu penduduk local (ngarep mereka nggak ngerti :p). Tapi kembali aku ngerasain hal yang janggal lagi, karena klo emang itu maling kenapa lama banget nggak nyergap kita. Aku emang dengan ada deratan lantai kayu seperti ada yang sedang melangkah masuk dan semakin dekat. Aku denger tas kami ada yang buka-buka dan aku denger seperti ada yang menaruh kelereng di trangia dan terus memutar2 kelereng itu (suara ini cukup lama), dan yang paling aneh aku ngerasa ada seuntai kain diatas tumitku, padahal aku memakai celana sebatas lutut dan selimut diambil si primus. Jujur aku takut tapi aku udah nggak tahan lagi nahannya. Akhirnya aku ngajak ka ira untuk bangun sedangkan si primus sama sekali nggak ada suaranya. Aku pikir dia pingsan. Dengan modal doa, keberanian alias nekad, kami berdua berdiri dan langsung menyalakan senter. AND YOU KNOW WHAT!!! Nggak ada apa-apa, bahkan kami sampai keluar pondok memeriksa. Dan yang lebih aneh lagi, kami baru ingat bagaimana ada orang bisa masuk kedalam tanpa menimbulkan suara. Karena kami sudah mengganjal pintu dengan asbes dan tas si primus dan ketika itu masih tersusun rapih.  
Kami memutuskan untuk tetap berjaga sampai sekitar pukul 02.00 dinihari. Well aku nggak bisa tidur, masih terus tidur-tidur ayam sekalian berjaga-jaga. Sampai akhirnya fajar menyingsing dan datanglah pagi. Pagi itu kuawali dengan berdoa dan segera bersnorkeling ria! Astaga di bibir pantai aja ikannya segambreng apalagi ditengah?? Upps ikuti terus petualangan kami di episode Day II yaaah (nggak cukup soalnya kalo digabung) muahmuah!


Tips :
·    Check kelengkapan peralatan jika ingin camping, pelajari tentang lokasi dulu
·    Bawa logistic yang disesuaikan dengan kebutuhan
·    Harus belajar berani dan keluar dari zona nyaman (yang manja2 nggak idup deh :p)
·    Berbagai dan saling jaga antar team 

Untuk biaya akan aku total aja diakhir artikel (episode) yah

 Dokumentasi lain :
Hanya beberapa langkah dari tempat kami tinggal
Kasiaan dia kesepian, anyone?
Siap-siap nyemplung (baca : mandi)
 
See you on my next journey
*next posting “Unforgettable Karimun Jawa Day II”

Jumat, 06 Mei 2011

“Lampung as my very first time in Sumatra :)”


Kesempatan kali ini sudah kutunggu-tunggu dari 1 tahun yang lalu, dan akhirnya Tuhan menjawab doaku :D. Yess, Lampung. Provinsi yang terletak di ujung Selatan pulau Sumatera. Aku mengincar Lampung karena beberapa orang temanku yang anak pecinta alam ngomong kalau alam di Lampung indah banget, terutama pantainya. Aku juga penasaran karena belum pernah menginjakan kaki di Sumatera (salah satu pulau yang menjadi target petualanganku :D). Perjalanan kali ini sangat special karena tidak hanya sekedar jalan-jalan saja. Kami menyebutnya “mission trip”, pelayanan gereja yang bertepatan pada hari Paskah kemaren yang direkomendasikan oleh salah seorang temenku. Setelah beberapa kali latihan, berangkatlah aku dan rombongan menuju Lampung via Merak-Bakauheni pada tanggal 21 April 2011 (sekitar jam 20.30 dan sampai di Lampung pada keesokan harinya, 22 April 2011 (sekitar jam 04.30 WIB).
Sebelumnya juga mohon maaf ni kalau di hasil fotoku ada jarring laba-labanya alias JAMUR!!! Aku belum sempet untuk bawa lensaku ke “dokter” soalnya :p. .
rumah kedua yang setia menemani
Perjalanan sempat tersendat di tol dalam kota karena superb macet. Begitu sampai di pelabuhan Merak aku teringat akan euphoria Sail Banda, bagaimana asiknya tinggal di dalam kapal selama 20 hari. Jadi kesempatan kali ini aku manfaatkan untuk “mengenang” saat2 itu aja. Walaupun malam hari aku tetap memilih untuk berada di tempat menunggu yang luar, kangen sama angin laut :p. Akupun berusaha sebisa mungkin beradaptasi dengan lingkungan. Waktu itu ada anak kecil muntah deket bangku yang kududuki, ah santai aja mungkin yang sedikit kesulitan adalah waktu aku tidur di kursi. Karena selain kursinya terpisah2 (jd ganjel di tulang :p) aku yang kala itu menyenderkan kaki di pager pembatas bawaannya suggest  mau nyemplung terus, haha. Aku terbangun ketika mendengar klakson kapal yang dibunyikan. Ketika melihat sekeliling (sekalipun itu gelap) aku samar-samar melihat pulau seperti bukit gitu yang mirip sama Pulau Gunung Api di Banda Neira, jadi tambah sedih deh T_T. kami segera bergegas turun untuk melanjutkan perjalanan ke Tanjung Karang. Aku melintasi Jalan Lintas Sumatera, amazing banget pemandangan disana dan apa aja yang lewat di jalan itu, truck-truck teronton yang saling salip, bah olahraga jantung di pagi-pagi buta.
pemandangan dari atas perahu
Singkat cerita kami disambut dengan sangat baik oleh teman-teman di Lampung, salah satu teman kami yang bernama Ricky mengantarkan kami jalan-jalan (wuasiik) ke pantai!. Namanya pantai Mutun. Letaknya ± 25 km arah Barat Daya dari pusat kota Bandar Lampung. Harga tiket masuknya adalah Rp 5.000/orang dan Rp 10.000/mobil. Pada saat itu masih terlihat sepi sekali. Begitu aku keluar dari mobil jujur aku merasa kurang pas jika ingin berenang di pinggiran dermaga yang ada “kapal karamnya”, karena bau anyir ikan yang menyengat tercium yang artinya kurang bagus untuk kesehatan kulit juga. Selain itu juga banyak kapal kecil yang “parkir” kurang pas aja kalau berenang disana, kecuali hanya sekedar main air. Akhirnya ada seorang bapak yang merupakan “pengendara” perahu menawarkan jasanya, dan ia memberikan pilihan untuk main ke Pulau Tangkil saja. Secepat kilat aku langsung bertanya “bisa snorkeling nggak pak?” haha, dan ternyata bisa, langsung saja aku menyetujui jika temen-temenku yang lain mau. Kami akhirnya naik perahu si bapak dan temennya, karena tidak muat jika masuk 1 perahu (kapasitas perahu maksimal 15 orang) dan segera menuju pulau Tangkil. Kalau nggak salah kami berhasil menawar Rp 150.000 untuk 2 perahu, hihihi. Begitu naik aku memilih untuk duduk paling ujung karena ingin mengambil foto pemandangan. Soo gooood deh yaa, dari kejauhan terlihat perbukitan yang masih diselimuti kabut dan semakin mengingatkanku saat aku mengelilingi Pulau Gunung Api di Banda Neira.
bias warna air laut  di Pulau Tangkil
Tibalah kami di Pulau Tangkil, dari jauh aja aku sudah melihat banyak ikan-ikan yang berseliweran. Warna bias air juga terbagi atas 3 lapis. Biru tua untuk perairan yang lebih dalam, biru muda (lebih ke tosca) untuk yang lebih dangkal dan yang bening ketika mendekati daratan. Aku langsung ngacir ke tempat penyewaan alat snorkeling dan ternyata ke-3 temenku mau ikutan. Harga sewanya cukup murah yaitu Rp 30.000 yang berhasil ditawar jadi Rp 25.000/jam untuk goggle, fin dan pelampungnya. Mulailah kami berngapung-ngapung ria. Awalnya sih masih becanda-canda dan sempet BT karena alat snorkelnya copot terus (huh! Jadi pengen nabung buat beli alat sendiri deh) tapi semakin ketengah kami semakin menikmati pemandangan yang kami liat. Walaupun nggak “wah” banget dan agak kotor di sisi pulau sebelah kanan honesty aku cukup senang kog. Ngeliat ikan-ikan beraktivitas dan ada banyak karang dan anemon laut. Merasa kurang puas akhirnya aku pindah spot ke muka pulau tempat perahu datang. Waw waw waw! Baru aja aku mencelupkan muka, ratusan ikan kecil berwarna putih lewat didepan mukaku. Ada juga ikan yang berwarna biru, hijau tosca, jingga sampai neon pink! Pulang dari sana kami menyempatkan diri untuk belanja oleh-oleh yaitu kripik pisang dengan taburan bubuk aneka rasa, yummy!
kepadatan penumpang ferry di pelabuhan Bakauheni
Akhirnya pada tanggal 24 April 2011 kami kembali ke Jakarta dikarenakan berakhirnya liburan panjang kami J. Terjadi antrian yang cukup panjang di pelabuhan Bakauheni, kami harus mengantri kira-kira 1 jam sebelum masuk kapal, dan luckily mobil kita adalah mobil terakhir yang masuk ke dalam ferry sebelum berangkat, nggak kebayang deh kalau harus nunggu 1 jam lagi. Soalnya cuaca saat itu sangat sangat sangat panas sekali :p. ketika kapal mulai berangkat aku duduk dipinggir dinding kapal dan menikmati pemandangan selat Sunda. Dari jauh aku masih sempat melihat pantai Mutun dan pulau Tangkil J. Ada beberapa pulau yang seperti “menarikku” untuk kesana, kapan lagi yaa bisa jelajah kesana? I won’t forget you Lampung and I can’t wait to see you soon J

Tips :
- Hati-hati bagi temen-temen yang berkendara khususnya motor di Jalan Lintas 
   Sumatera, karena banyak teronton yang lewat
- Waktu di Pulau Tangkil lebih baik membawa perbekalan sendiri (makanan dan 
   minuman) karena disana cukup mahal harganya.
- Kalau ingin pinjam alat snorkel jangan lupa untuk dicuci dulu, karena itu kan dari 
  mulut ke mulut, lebih baik sih punya sendiri *langsunglirikdompet :p
- Banyak minum air putih atau air isotonik agar tidak dehidrasi, pakai topi atau 
  pelindung kepala dan memakai pakaian kasual.

Biaya :
        Sebenarnya aku mengumpulkan dana secara kolektif sebesar Rp 150.000 untuk biaya selama perjalanan. Disana kami juga nginep di gereja. Aku hanya merincikan biaya saat dari Pantai Mutun ke Pulau Tangkil. So far masih terjangkau kog J

Dokumentasi lain :
papan informasi Pulau Tangkil
ombak yang tenang, air laut yang jernih dan ikan yang sangat banyak! wanna some more :D
Gradasi warna muka, tangan dan kaos
sendal baaruuuu (sendal joger kaos jogja celana carita) souvenir berjalan
pulau-pulau disekitar pelabuhan Bakauheni
pulau Sumatera dilihat dari kejauhan *Selat Sunda
MY FAVORITE!! <3
See you on my next journey







*next posting “Unforgettable Karimun Jawa (Day I)