Minggu, 16 Januari 2011

Berpetualang di Pantai Ujung Genteng (29-31 Desember 2009)


Perjalanan kali ini terbilang cukup nekat, karena selain belum mengetahui lokasi, kami (aku, ventin dan ka agit) hanya menyusun rencana dan persiapan keberangkatan ini hanya dalam waktu ± 2 hari dengan budget yang sangat minim. Bermodal informasi dari teman yang sudah pernah kesana dan dari internet, akhirnya kami berangkat menuju pantai Ujung Genteng, sebuah pantai yang terletak di selatan kota Sukabumi. Mungkin banyak dari antara teman-teman yang merasa asing dengan pantai ini, bahkan ketika aku bilang sama temenku kalau mau pergi ke Ujung Genteng, dia malah bilang “mau bunuh diri loe sa?” what a question!

          Kebiasaanku kalau ingin bepergian adalah sulit tidur, tapi ini aku manfaatkan untuk packing. Aku hanya membawa day pack seperti biasa, isinya beberapa baju + pakaian dalam (untuk 3 hari 2 malam) *saranku bawa pakaian dalam lebih banyak dari perkiraan lama tinggal, pakaian untuk renang (kaos oblong dan celana boxer), peralatan mandi, handuk kecil, minuman kaleng dan snack, sandal jepit, dan kamera + charger. Temanku yang lainnya membawa mie instan (karena budget minim), dan pil kina, karena di Ujung Genteng masih banyak nyamuk malarianya. Buat info ni guys, minum pil kinanya dari 1 hari sebelum keberangkatan ya, biar larut dan diserap tubuh, jangan lupa bawa antimo bagi teman-teman yang mabuk darat, karena medan perjalanannya, mendaki gunung lewati lembah :D, tapi sungguh pemandangannya breath taking abis.
          Kami janjian untuk berkumpul di Stasiun Depok baru sekitar jam 05.00 WIB, tiket untuk menuju stasiun Bogor harganya Rp 1.500 (pada waktu itu), sekitar jam 07.00 WIB kami tiba di stasiun Bogor (karena keretanya sedikit terlambat), segera kami menuju Terminal bis Baranang Siang dengan menaiki angkot berwarna hijau dari depan stasiun Bogor, tarifnya Rp 2.000. Kami mencari informasi tentang bis menuju Surade kepada orang-orang di terminal, ternyata bisnya ngetem di pintu keluar terminal, bisnya MGI ekonomi dengan tarif Bogor-Surade Rp 35.000 (sangat terjangkau untuk jarak tempuh yang jauh). Bis mulai bergerak sekitar jam 07.15, Thx God perjalanan lancar terkendali :p, aku sangat menikmati perjalanan kali ini dengan ditemani lagu-lagu kesukaanku yang kuputar di Hp (jangan lupa bawa headset atau mp4 bagi yang punya yaa, it will help you to increase your mood guys J). Oia si ventin memberiku antimonya, aku minum setengah saja, karena aku juga jarang mabuk darat.
          Sekitar jam 11.00 kami tiba di terminal bis Lembur Situ, dan bisnya ngetem cukup lama, selain menunggu penumpang si pak supir menyempatkan diri untuk makan dulu. Ada kejadian lucu deh, waktu itu banyak pedangan asongan yang masuk ke dalam bis kami untuk menawarkan dagangan mereka, trus ada tukang salak, pertama dia bilang salak 10 buah Rp 5.000, karena kami terus menolak, mungkin dia sedikit frustasi akhirnya dia menawarkan salaknya semua (sampe yang didalam karung juga) dengan harga Rp 10.000 :p, maaf pak kami lagi nggak mood gadoin salak segitu banyak :p. Sekitar setengah jam kemudian bis berangkat kembali.
          Di tengah perjalanan kami berhenti, pak supir yang baik memberhentikan bis di rumah makan lokal (soalnya asli jauh banget perjalanannya), Beberapa di antara kami ada yang makan dan pergi ke kamar kecil. Kini tiba saatnya untuk mengeluarkan bekal kami, yaitu mie instan, kami hanya berniat untuk membeli air panas untuk menyeduh mie kami, dan ternyata si empunya rumah makan memberi kami air panas gratis, oalaah senangnya, kami menikmati makan siang kami yang sederhana itu di dalam bis ketika bis memulai perjalanan kembali, minumnya pun sharing ber-3, 1 botol air mineral seharga Rp 1.700an, indahnya :D.
Jalan menuju Curug Cikaso
         Sepanjang perjalanan aku sempat beberapa kali tertidur, karena pengaruh antimo yang memaksaku untuk menutup mata beberapa saat, namun aku segera mendengarkan musik-musik yang ngbeat agar nggak terus terlelap, hal ini aku lakukan karena nggak ingin kehilangan kesempatan untuk melihat pemandangan yang begitu luar biasa! Pegunungan kapur, lembah yang dipenuhi perkebunan dan sawah, sungai, langit yang biru, tebing-tebing yang penuh dengan pohon-pohon besar, gerimis hujan yang sempat turun dan suara serangga (jangkrik dan tonggerek *serangga yang hanya keluar pada waktu siang-sore dengan suara sangat nyaring) membuai diriku (cieile).
          Kami tiba di Surade sekitar jam 15.30, kami menyempatkan diri untuk jajan di mini market (aku lupa ni apa aja yang aku beli, kayanya sih minuman dan vitamin C deh). Kami menaiki angkot berwarna merah (info penting nih guys, angkot ini hanya ada sampai jam 16.00, usahakan sebelum jam segitu kamu sudah sampai di Surade, supaya kamu nggak harus memakai jasa ojek yang lebih mahal), tarif sampai ke pertigaan ujung genteng Rp 8.000, widih mahal ya untuk tarif angkot, tapi perlu diketahui dari Surade sampai ke pertigaan ujung genteng memakan waktu 1 jam lho, dikiri kanan jalan terbentang perkebunan kelapa dan persawahan, gokill abis deh, jalannya sepi banget, hanya beberapa rumah penduduk yang kali lihat, kami tambahkan Rp 2.000 (jadinya Rp 10.000) karena kami minta di antarkan sampai ke Mama’s Losmen (tempat dimana kami akan menginap). Kami juga meminta no Hp pak supir agar esok hari dapat kami hubungi kembali (niat awal hanya untuk menjemput kami ketika kami ingin pulang, namun karena pertimbangan kami, akhirnya pak supir ini yang menemani kami berkeliling di daerah tersebut).
Kamar di  Mama's Losmen
          
 Setibanya di losmen, ka agit segera tawar-menawar harga, kami hanya menyewa 1 kamar yang kami sharingkan pada waktu itu harganya Rp 100.000/malam, dan ka agit minta eksta bed seharga Rp 25.000 untuk dia tidur (padahal ka agit yang kali ini menyumbang untuk sewa losmennya, tengkiu bradaa, hehehe). Kamarnya cukup enak, lantai terbuat dari kayu, dindingnya bilik, dilengkapi dengan kamar mandi di dalam ruangan dan 1 buah kipas angin serta 1 termos air panas. Losmen kami terletak tepat di depan pantai dan dekat dengan pertigaan ujung genteng (strategis).
Pantai Ujung Genteng di kala senja (sayang mendung)
          Setelah beristirahat alias meletakan barang-barang dan duduk sebentar, kami segera mengganti baju karena tidak tahan untuk bercebur ria di pantai. Pada waktu itu cuacanya kurang mendukung, karna maklum kami pergi pada waktu musim hujan, saranku kalau ingin berwisata pantai/bahari jangan pada waktu musim hujan ya, pergilah di sekitar bulan maret-agustus, walaupun sekarang cuaca tidak dapat diprediksi tapi kira-kira pada bulan itu lah curah hujannya kecil. Selain kita dapat menikmati laut yang biru (karena cahaya matahari yang cukup memantulkan bias langit ke air laut jadi warnanya biru sempurna), kita juga puas untuk main di pantai seharian plus melihat sun rise dan sun set. Kegiatan sore itu adalah main air di pantai, berfoto-foto ria di atas perahu nelayan yang sedang disandarkan, ngobrol dan melakukan jelajah singkat di pinggiran pantai. Ketika hujan turun kami tetap bermain dipantai lho (perlu diingat saat itu tidak ada petir dan curah hujannya sedang), asik banget! Tapi aku sempet BT karena ada binatang kecil (seperti kutu air) berwarna putih yang menggigit kakiku, oia karena di sekitar pantai banyak karang dan bulu babi (di sekitar pantai yang jauh dari sisi jalan) kita harus memakai sandal (saranku pakai sandal gunung/sandal bertali, jadi teman-teman nggak usah takut sendalnya hanyut kalau ombak datang).
Perbedaan warna air saat mendekati Curug Cikaso
          Kami tidak bisa melihat full sun set karena langit masih mendung, akhirnya kami memutuskan untuk mandi dan mencari makan. Kami sempat kebingungan mau makan dimana, karena restaurant di losmen nggak menyediakan makanan, karena biasanya mereka hanya menjadi pengolah makanan pengunjung, yang berupa seafood yang dibeli di tempat pelelangan ikan. Akhirnya kami berkeliling (info lagi nih guys, disana sepi banget lho, terpencil malah, jadi kalau bisa sediakan makanan siap saji yah, seperti mie, roti atau bubur instan jika teman-teman nggak mau repot atau nggak terbiasa makan di warung-warung makan sekelas warteg). Akhirnya menemukan warteg nelayan, tempat para nelayan dan penduduk sekitar makan. Malam itu aku makan nasi 2 + kikil + telor + es teh manis 2, semuanya Rp 12.000 (aku suka banget sama tehnya, mengingatkanku pada kampung nenekku di Ambarawa). Setelah makan kami kembali ke losmen untuk beristirahat, karena klo boleh jujur masih pegel banget nih badan, duduk ± 10 jam di bis dan tidak lupa kami menelepon bapak supir angkot untuk janjian besok pagi.
          Keesokan paginya kami segera mandi dan sarapan, kali ini kami sarapan nasi goreng di losmen seharga Rp 10.000/porsi. Tidak lama kemudian pak supir sudah menjemput kami untuk mengantarkan kami jalan-jalan. Tujuan pertama kami adalah curug Cikaso. Dari losmen kami perjalanan ± memakan waktu 1,5 jam. Kami harus membayar tiket masuk objek sebesar Rp 5.000/orang dan membayar tiket perahu Rp 60.000/perahu dengan kapasitas 10 orang. Di lokasi ini terdapat berbagai objek wisata tapi karna (kembali) budget kami minim, jadi kami memilih curug Cikaso alias yang paling murah. Diatas perahu kami melihat pemandangan yang sangat menakjubkan, saat itu air di sungai berwarna coklat keruh namun ketika mendekati tempat tujuan air tersebut berwarna hijau daun. Perkiraanku sih karena ada lumut atau alga yang tumbuh didalam sungai yang membuat airnya berwarna seperti itu
Curug Cikaso :D

Sesampainya di objek kami semua langsung kegirangan, karena belum pernah melihat pemandangan seperti ini. Terdapat 3 buah air terjun dengan kolam dibawahnya yang dapat digunakan untuk berenang atau sekedar main air. Oh ya aku sarankan kalau kalian ingin berenang diharap ganti baju di toilet dekat loket, karena di dalam objek tidak tersedia tempat ganti/toilet (pada saat itu aku sama ventin ganti baju dibalik batu-batu kali yang besar). Kalau ingin sewa pelampung (ban dalam mobil) harganya waktu itu Rp 6.000-sepuasnya :p. Cukup lama kami disini dan ketika tangan sudah keriput semua kami memutuskan untuk pergi.

Rencana awal setelah dari Cikaso kami ingin pergi ke gua (aku lupa namanya) tapi karena persyaratannya cukup rumit, kami memilih untuk kembali ke Genteng saja. Kami menyempatkan untuk membeli menu makan siang kami, yaitu KFC gerobak dengan harga Rp 3.000/potong (ngirit mode on). Setelah makan kami iseng-iseng main di pantai dan tercetus ide untuk melihat pelepasan anak penyu (tukik) di pantai Pangumbahan tapi dengan berjalan kaki menyusuri pantai (-_-). Perjalanan yang luar biasa, tapi harus hati-hati nih karena banyak ranjaunya, alisa bulu babi dan kotoran sapi.
Bersama Tukik :B

Kami tiba tepat pada waktunya, dengan mengumpulkan sisa tenaga aku berlari untuk ikut berpartisipasi melepas anak penyu. Baunya amis sekali tapi lucu banget! si ventin sempat menjatuhkan anak penyu dengan tidak sengaja :p (jangan ditiru yaa). Penyu yang bertelur disini adalah jenis penyu hijau yang sudah terancam punah, dan kami dapat info dari petugas disana kalau penyu itu adalah salah satu binatang yang setia dengan pasangannya. Mereka hanya memiliki satu pasangan dan ketika pasangannya mati tidak lama kemudian mereka juga akan mati (T_T).

Sangking keasikan main dengan tukik kami tidak menyadari kalau hari sudah malam dan tiba-tiba teringat dengan perjalanan yang harus kami tempuh. Akhirnya aku menitipkan kamera aku pada ka agit karena takut dengan hal-hal yang tidak diinginkan. Sepanjang jalan aku tidak menemukan penerangan sama sekali. Bisa kebayangkan kami melewati jalan setapak dari pasir di sebelah kanan lautan dan disebelah kiri hutan tebu, nggak bawa apa-apa selain kaleng minuman yang sudah kosong, lebih mirip uji nyali ini mah. Di tengah perjalanan ventin mengeluh karena pahanya lecet akibat gesekan pasir yang nempel, akhirnya kami memutuskan untuk mencari pangkalan ojek (yang sebenarnya perjalanan tinggal 1/3 lagi). Ternyata sedang terjadi pemadaman listrik di daerah Genteng, alhasil semua gelap gulita hanya terlihat beberapa cahaya dari lampu minyak dan yang terdengar hanya suara deburan ombak. Kami memutuskan untuk mandi dan segera tidur.
Angkot Surade-Genteng

Keesokan paginya kami segera packing dan menunggu abang angkot untuk menjemput kami lagi. Kami tiba di Surade kami membeli gorengan untuk sarapan dan langsung naik MGI Ekonomi jurusan Surade-Bogor. Aku sangat menyesal memilih bangku dibelakang sopir pada waktu itu, karena begitu banyak penumpang yang naik dan aku terjepit nggak bisa gerak dan you know what guys, perjalanan ini kan bukan 1, 2, 3 jam saja (pengen nangis banget) karena tulang pinggangku sakit dan bapak-bapak disampingku memakai parfum yang berlebihan :p. Aku sempat merasa bingung ketika bang kondektur hanya meminta tarif Rp 25.000 dan ternyata dugaanku benar, kita diturunin di terminal Sukabumi, tp Thx God ada MGI Bisnis jurusan Sukabumi-Depok dengan tarif Rp 20.000. Begitu sampai di Depok aku segera pulang dan pergi ke gereja untuk acara tutup tahun. Walaupun cape tapi tetap bersemangat :D


Biaya :
Kereta                            : Rp   1.500
Angkot hijau                   : Rp   2.000
MGI (total)                      : Rp 80.000
Angkot merah (total)        : Rp 20.000
Patungan angkot             : Rp 50.000
Tiket objek                     : Rp   5.000
Patungan perahu             : Rp 30.000
Makan (total)                   : Rp 50.000
Ojek                                : Rp  15.000
Total                               : Rp 253.500 

See you on my next journey
*next posting “Anugerah mengikuti Sail Banda 2010 (edisi I : Makassar)”

Kamis, 14 Oktober 2010

Liburan singkat di Paris van Java





Sabtu, 11 September 2010
Heii, selamat lebaran bagi teman-teman yang merayakan yaa, mohon maaf lahir dan bathin
Pada kesempatan liburan kali ini aku bersama ke-3 temanku (Sasa, Arya dan ka Agit) “bermain” ke ibukota Jawa Barat, yeah Bandung.
Perjalanan dimulai tepat jam 05.00 pagi, kami semua berkumpul di depan Jln. Dahlia (seberang BNI Margonda Depok). Sebelumnya aku sudah mengisi tangki perutku dengan 2 pasang roti dan segelas susu. Aku hanya membawa day pack kecil yang berisi : perlengkapan mandi, kaos, jacket, celana pendek, handuk kecil, pakaian dalam, kamera beserta charger, headlamp dan dompet. Tidak lupa aku pakaikan “rain coat” pada tas mungilku itu, karena aku menyadari musim penghujan telah datang (tapi tidak mengurangi semangat berjalan-jalan ria lho). Aku juga menyarankan, bila musim penghujan datang sebaiknya tidak mengunjungi daerah pantai, karena air lautnya tidak akan sejernih bila kita datang pada waktu musim panas. Pantulan cahaya matahari juga turut mempengaruhi bias warna air laut lho, dan lagi acara “bermain” di pantai pun tidak maksimal jika turun hujan :p.
Kembali ke acara (red : baca dengan intonasinya mas tukul) seperti sudah diduga, kami ber-4 menggunakan motor untuk menuju tempat liburan kami kali ini. Setelah mengawali perjalanan kami dengan berdoa, kami pun langsung meluncur. Kami memilih jalur alternative, yaitu Depok-Sentul-Puncak-Cianjur-Bandung. Udara dingin yang menusuk sampai ke tulang tidak kami hiraukan, guna mempersingkat waktu tempuh, maklum liburan kali ini cukup singkat, 2 hari 1 malam, oleh karena itu kami harus extra dalam hal mengatur dan memanfaatkan waktu. Diperjalanan kami disambut dengan cahaya matahari, yang kala itu baru saja terbit (wuis jarang-jarang aku bisa lihat pemandangan kaya gini, wong bangunnya siang terus :p), namun ada suatu hal  yang menggelitik hatiku. Suasana disepanjang jalan sangat sepi, hanya beberapa orang yang aku lihat sudah beraktifitas, sampai-sampai aku bilang sama Arya (yang saat itu dengan baik hati membonceng aku) “Ya, kita kaya lagi maen film Zombie Land deh, hati-hati yee, ntr’ tiba-tiba tu zombie pada keluar” dan seketika ada seorang bapak sedang membakar kambing di luar rumah makan kepunyaannya, “bah, it seems like a grilled human body”.
Ketika memasuki jalur di tengah perkebunan teh, tangan dan kaki ini serasa beku, karena udara yang dingin menyelimuti kami. Sekitar jam 07.00 pagi kami telah tiba di Cibodas, dan berhenti untuk sarapan, tapi berhubung aku sudah sarapan sebelumnya hanya teman-temanku sajalah yang makan. Mereka membeli bubur ayam di pinggir jalan dengan harga Rp 6.000/porsi. Setelah selesai makan kami melanjutkan perjalanan menuju Bandung.
Oalaaa, pinggulku (tepatnya bokongku) sakit sekali, setelah berjam-jam duduk di motor. Rasanya sampai mau nangis, ketika sudah tidak kuat aku memberitahu Arya untuk segera berhenti kalau menemukan mini market, sekalian membeli minuman. Fiuhh, akhirnya berhenti juga, aku segera berdiri dan ternyata Sasa juga merasakan hal yang sama. Aku dan Sasa segera bergegas masuk ke dalam mini market yang berada di kawasan Bandung Selatan untuk “jajan”, aku membeli 1 kotak susu strawberry dan 1 buah es krim SpongeBob rasa pisang (totalnya Rp 7.500). Sebelum melanjutkan perjalanan aku mencoba mengelap wajahku dengan tissue basah yang aku bawa, dan WOW! Eksotik sekali wajah ini, sampai-sampai seluruh tissue berubah warna menjadi hitam (lebai mode on). Saat itu jam menunjukan pukul 10.00 dan kami melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Bandung.
Sepeda motor dipacu dengan kencang oleh Arya si pembalap, hahaha, jantung ini serasa bergerak kesana-kemari dari posisi sebenarnya, apalagi ketika ada tikungan tajam, ampun Dj! Namun pemandangannya sungguh luar biasa, bukit kapur yang menjulang ditambah sawah yang bertingkat-tingkat, what an amazing Sunda Land.
Finally Welcome Bandung! Kami muter-muter untuk menuju pusat kota. Wah sudah banyak yang berubah dari terakir aku kesini (sekitar ±3 tahun yang lalu :p). Kami memutuskan untuk ke Ciwalk atau Cihampelas Walk. Yaa sekedar window shopping dan numpang foto-foto deh, hehehe. Aku membeli gantungan handphone yang terbuat dari kayu ringan (nggak tahu namanya sih :p) di Purzento seharga Rp 5.000. Padahal dulu aku juga pernah membeli barang serupa dari Purzento di Citos (Cilandak Town Square), tapi karena aku pengen numpang foto di stall-nya jadi beli deh. 

Ketika perut ini sudah berontak dan jam tepat menunjukan pukul 12.00, kami segera mencari tempat makan yang unik dan MurMer (Murah Meriah), tapi apa daya masih banyak rumah makan yang tutup dikarenakan masih dalam masa lebaran (lebaran hari ke-2), akhirnya kami memutuskan untuk makan di WarTeg di daerah belakang School of Telematics. Menuku pada siang itu adalah : nasi, ayam goreng tepung ala Kfc (sungguh ayamnya enak banget), telur ceplok, bakwan (bala-bala) dan 1 gelas es teh manis (totalnya Rp 15.000). 

Selesai makan kami bergegas pergi menuju Jalan Asia Afrika, salah satu jalan bersejarah di kota Kembang itu. Di tengah perjalanan aku melihat bangunan Bank Indonesia cabang Bandung, dan teringat akan lomba foto heritage yang diadakan oleh Bank Indonesia. Langsung saja aku mengajak Arya untuk berhenti dan hunting foto sebentar, sinar matahari yang menyengat tidak ku hiraukan, demi mendapatkan gambar gedung era kolonial yang megah itu. Selain Bank Indonesia, aku juga mendapat bonus yaitu dapat mengambil gambar dari Gereja Katedral St. Petrus tepat di samping dari gedung BI, bangunan-bangunan itu terletak di jalan merdeka.

Kami pun tiba di jalan Asia Afrika itu, well kebanyakan jalan di Bandung itu oneway (satu jalur) jadi harus hati-hati kalau tidak ingin memutar arah lagi. Tiba saatnya untuk berfoto-foto ria di depan museum itu, terlihat beberapa orang pemuda-pemudi juga sedang asik bernarsis ria. Setelah beristirahat sambil melihat hasil jepretan aku dan arya, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Jalan Braga, yang merupakan business district Bandung sejak Tempo Doloe J. Kami sempat bertanya kepada sekelompok pria untuk menunjukan arah menuju jalan Braga, namun diluar perkiraan kami, salah seorang bapak malah mengantarkan kami (menaiki motornya dan menunjukan kami jalan pintas menuju Braga) wuih, baik sekali kau pak \(^_^)/! Ketika sampai disana, suasananya mirip sekali dengan foto Braga Tempo Doloe yang pernah aku lihat di internet, hanya ada beberapa penambahan bangunan modern seperti Braga City Walk, dan beberapa minimarket tempat nongkrong anak-anak muda di Bandung. Sebagian besar toko yang ada adalah toko kerajinan, kebanyakan dari mereka menjual lukisan. Keadaan seperti ini juga dapat ditemui di Jakarta kota tua, tepatnya di sepanjang jalan Gajah Mada, namun suasana dan bangunan-bangunan yang ada di Braga ini lebih terawat dan teratur dengan baik.
Karena mata kami sudah tidak dapat berkompromi lagi (maklum, kami harus bangun subuh-subuh dan menempuh perjalanan yang begitu jauh) kami memutuskan untuk menuju kontrakannya Lambok (pacarnya si Sasa :p)  di daerah Sukaluyu untuk beristirahat. Sebelumnya aku sempatkan untuk update status facebook dan upload beberapa foto lho >_<. Aku tidur dari sekitar jam 16.00 dan bangun sekitar jam 17.30, dilanjutkan dengan mandi koboi (hanya cuci muka, lalu memakai minyak kayu putih, bedak dan deodoran serta ganti baju) sudah membuatku mantap untuk menjelajah Bandung di malam minggu itu :p. Hujan pun turun, ketika sudah sedikit reda kami bergegas pergi, tidak lupa kami memakai rain coat yang sudah kami persiapkan. Di tengah perjalanan Arya memberitahuku kalau dia lupa membawa dompet yang didalamnya terdapat STNK dan SIM, OMG! Jangan ditiru yaa, dengan harap-harap cemas kami melanjutkan perjalanan untuk berwisata kuliner. Oia, ada kejadian yang lucu dan ‘ngeselin terjadi padaku. Saat itu disalah satu sudut jalan tampak macet, Arya mencari-cari sela untuk menerobos kemacetan itu, ada seorang satpam sedang mengarahkan mobil untuk keluar dari pelataran sebuah hotel/kantor, dan tiba-tiba tangannya yang sedang memberi aba-aba pada supir mobil menghantam leherku ketika aku dan arya melintas! BUKK! Jangan tanya rasanya, sakit ajja!

Tujuan pertama wisata kuliner malam itu adalah surabi, kue kecil khas Bandung yang dibuat dengan cara memanggang adonan di dalam cetakan yang terbuat dari tanah liat. Kami memutuskan untuk makan di Surabi Imut Jalan Setia Budi no 194. Kami memesan menu yang berbeda-beda, agar bisa saling cicip-mencicipi. Aku memilih Surabi sosis dan minumnya Mocacino hangat, tadinya aku memesan Banana Shake tapi habis :’( (totalnya Rp 12.500). Setelah menunggu cukup lama, datanglah pesanan yang dinanti, tanpa pikir panjang, langsung aku lahap surabi itu, hmmm, aku suka mayonnaisenya :p. Sebenarnya aku tidak merasa kenyang memakan 1 porsi, tapi berhubung sehabis ini kami masih mau “jajan” lgi, ya sudah 1 saja itung-itung sebagai makanan pembuka, hehee. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan untuk berkeliling kota Bandung, walaupun hujan, semangat dan keceriaan kami tidak berkurang sedikitpun.
Sebenarnya kami ingin mencoba menu yang ditawarkan Sasa, yaitu nasi telor, namun berhubung warung tenda itu masih tutup, kami mencari alternative lain. Jujur pada malam itu Bandung sangat jauh berbeda dengan biasanya, seepiiiii sekali, hanya beberapa toko yang buka, tapi yang namanya factory outlet tetep eksis lah yaaw. Hampir semua tempat makan yang ingin kami datangi tutup, fiuuh, Arya sedikit frustasi karena sudah kelaparan, akhirnya kami memutuskan untuk makan di Nasi Bancakan, rumah makan dengan konsep yang hommy banget, makanannya juga masakan rumah, menuku adalah nasi (yang dibungkus daun pisang), ayam goreng, sayur toge dan teh botol (total harga Rp 15.000).
Selesai makan aku request untuk mampir ke BaBe (Barang Bekas), setiap aku ke Bandung aku pasti ke sini, tadinya aku pengen banget ke Gede Bage (pasar barang bekas di Bandung) namun aku masih ragu, karena Arya dan ka Agit ingin pulang pagi-pagi :’(. Ketika aku coba browsing-browsing, buset!! Harganya beda banget sama yang dulu, terakhir aku ke babe, aku masih bisa beli tas dengan harga Rp 10.000 dan baju kaos dan vest  seharga Rp 5.000, sekarang jangan harap! Dengan rasa sedikit kesal di hati, aku dan Sasa naik ke lantai 2 untuk melihat koleksi sepatu, yaa lumayan lha, adanya peningkatan, tapi harganya bikin BT. Aku keluar dengan tangan hampa, tadinya aku berpikir untuk rela membeli tripod jika harganya Rp 50.000an, hehehehe, ada sih 1 tapi harganya hampir Rp 300.000, yaa kali mending aku ke Harco Mangga Dua aja beli yang baru (perhitungan mode on).

Petualangan kami lanjutkan menuju jembatan Surapati untuk mengambil gambar. Kalau aku bilang dari atas jembatan (fly over tepatnya) kita dapat melihat perbedaan kota Bandung, dari pemukiman “biasa” sampai ke gemerlapnya suasana modern Bandung. Kadang-kadang aku juga suka mikir, kalau di malam hari kemana perginya orang-orang tua yaa, soalnya yang kebanyak aku lihat di Bandung (khususnya malam hari) anak muda semua sih, hohoho.

Karena kami bingung mau kemana lagi, akhirnya diputuskan untuk balik ke kontrakan Lambok untuk beristirahat alias tidur :p. pas nyampe aku juga nggak langsung tidur, biasa maen pesbuk dulu sambil ngobrol-ngobrol, namun karena teman-teman yang lain sudah tidak terdengar suaranya dan takut besok kelelahan, akhirnya aku memutuskan untuk tidur juga, well tidur dengan formasi ikan pindang, alias berjejer dan tumpuk-tumpukan.

Aku terbangun ketika mendengan Hpku berbunyi dan suara si Sasa dan ka Agit yang sedang mengobrol, ketika melihat jam sudah jam 08.00. kebetulan keluarganya si Sasa juga sudah mau nyampe di kontrakannya Lambok, karena mereka ada acara silahturahmi keluarga di Bandung. Dan kembali aku nggak mandi :p, hanya bersih-bersih dan ganti baju. Setelah berpamitan setibanya keluarga Sasa, kami (aku, Arya dan ka Agit) segera check-out untuk kembali ke Depok dan tidak lupa kami berdoa untuk keselamatan kami dan berterima kasih kepada Tuhan atas perjalanan kami di Bandung ini. Wah benar kata Sasa, ternyata terjadi pasar tumpah di dekat kontrakan Lambok yang membuat jalan sedikit macet, sungguh! Rasanya pengen turun aja ketika melihat gantungan harga di atas celana jeans Rp 10.000!!! tapi aku tahan aja :’(. Kami segera menuju gedung sate untuk mengambil gambar, dan ternyata tidak ada bedanya bahkan pasar tumpah disini lebih besar dan ramai dibanding yang dipinggir jalan tadi, niat mau mengambil gambar jadi tidak maksimal. Akhirnya aku memutuskan untuk “jajan” juga disitu, hiihih, lumayan aku dapat tas bahan seharga Rp 15.000, 2 sepatu yang lucu seharga Rp 62.000, gelang tangan kuning seharga Rp 2.000 :D. Ka Agit dan Arya membeli lontong ayam (sejenis lontong sayur) untuk sarapan, aku tidak terbiasa untuk sarapan dengan yang “berat” jadi aku nggak ikutan makan.
Segera kami memacu motor kami (tepatnya motor Arya dan ka Agit) untuk meninggalkan Bandung. Kepadatan pengguna jalan mulai terlihat, hal ini disebabkan liburan lebaran akan berakir pada hari Senin, 13 September 2010. Perjalanan non-stop kami tempuh, hingga akhirnya, seperti biasa, rasa sakit dibagian belakang memaksaku untuk minta berhenti ketika kami sampai di daerah Cianjur, tepat di depan rumah makan lembur kuring 2, pemandangan sawah-sawahnya ajiiibb :D. Sepanjang perjalanan aku sambil mengambil gambar memakai handycamnya si Arya, yaa iseng-iseng membuat film documenter :p, dan perlu diketahui ketika kami memasuki daerah Cipanas, terjadi tumpukan kendaraan, alias macet yang gila-gilaan, untung aja kita naik motor, kalau naik mobil nggak tahu deh mau nyampe jam berapa, banyak pengemudi kendaraan yang turun dan ngobrol dengan pengemudi lainnya sambil “jajan” di warung-warung pinggir jalan, ini adalah macet terparah yang pernah aku lihat sepanjang aku jalan-jalan di Puncak.
Aku menyempatkan untuk membeli oleh-oleh titipan si emak, yaitu sale pisang. Aku memilih untuk membeli di kawasan objek wisata Cibodas, sekalian mengobati rasa kangen pada tempat magangku tersayang. Wuaaahhh! Lautan manusia ini mah namanya, rame  banget! Tapi demi sale pisang yang enak di tempat langgananku, nggak apa-apa deh :p, aku membeli sale pisang ambon seharga Rp 5.000, sale pisang keju seharga Rp 5.000 dan kripik bayam juga seharga Rp 5.000. Kami tiba didepok sekitar jam 18.00, perjalanan kali ini dimulai ketika mata hari terbit dan diakhiri ketika mata hari terbenam (keesokan harinya) what a journey :D
Biaya :
-      patungan bensin       = Rp 25.000
-      makan (3x)               = Rp 42.500
-      “jajan”                      = Rp 91.500
-      Oleh-oleh                  = Rp 15.000
Total           = Rp 174.00







See you on my next journey
*next posting “Bertualang di Pantai Ujung Genteng”

Sabtu, 09 Oktober 2010

Perkenalan :)



Salam Sejahtera
Hai semua, ijinkan aku memperkenalkan diriku terlebih dulu yaa :) . Namaku Lisa Ferani Takaria, lahir di Jakarta tanggal 10 Maret 1989. Aku tinggal di sebuah kota di selatan Jakarta, Depok namanya. Saat ini aku sedang menyelesaikan pendidikanku di Akademi Pariwisata (D-III) Universitas Indonesia, aku mengambil konsentrasi travel dan menaruh peminatan pada wisata alam, :p . Aku sangat menyukai traveling dan fotografi. Sebenarnya aku mempunyai beberapa blog, walaupun jarang aku buka dan tulis. Namun, untuk blog yang satu ini aku ingin sekali sharing tentang pengalamanku berpetualang di Negara kita tercinta Indonesia. Walaupun baru petualangan kecil-kecilan tapi aku berharap dapat berguna bagi teman-teman semua . Start to write on 8-)